Connect with us

ZONAPEDIA

Waspada gejala penyakit autoimun

Penyakit ini berkembang ketika sistem kekebalan tubuh salah menilai sel sehat yang ada dalam tubuh dan menganggapnya sebagai benda asing.

Bagikan !

Published

on

Oleh: Aprisilia Debora Manganang *

Sistem imun atau yang lebih dikenal dengan sistem kekebalan tubuh adalah kumpulan jaringan, protein, sel dan organ tubuh yang bekerja sama untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dibawa oleh mikroorganisme (virus dan bakteri).

Setiap orang memiliki sistem kekebalan tubuh yang berbeda, untuk itu jika anda merasa tubuh anda memiliki kekebalan tubuh yang kurang baik segeralah untuk melakukan vaksinasi atau cegah sejak bayi dengan lengkap imunisasi.

Namun sistem imun juga dapat mengalami gangguan yang sangat berpengaruh dalam fungsi dan kerjanya, seperti yang satu ini penyakit yang sangat langka namun perlu diwaspadai karena jika dibiarkan dapat menyebabkan hal yang fatal sampai pada kematian, yaitu penyakit autoimun.

Jadi, penyakit autoimun merupakan salah satu penyakit dimana terjadi karena sistem imun atau sistem kekebalan tubuh menyerang sel – sel sehat dalam tubuh kita sendiri.

Penyakit ini berkembang ketika sistem kekebalan tubuh salah menilai sel sehat yang ada dalam tubuh dan menganggapnya sebagai benda asing. Sehingga tubuh akan mulai memproduksi antibodi yang akan menyerang dan merusak sel sehat dalam tubuh kita.

Penyakit yang satu ini lebih banyak menyerang wanita usia produktif, namun faktor penyebabnya dapat berbeda antara satu penderita dengan penderita yang lain.

Penyakit autoimun ini berbahaya karena dapat mengakibatkan kerusakan sel jaringan, menimbulkan peradangan, dan menimbulkan kondisi yang serius seperti gangguan pada tulang, persendian, saraf, kelenjar, dan organ-organ penting lain.

Sampai saat ini belum diketahui pasti apa penyebab penyakit ini, namun hal mendasar salah satu penyebab terjadinya penyakit ini karena faktor adanya riwayat keluarga.

Umumnya penyakit ini akan menyerang anggota keluarga yang lain meskipun tidak terserang penyakit autoimun yang sama, tetapi mereka rentang terkena penyakit autoimun yang lain.

Jika anda bertanya bagaimana pencegahan penyakit ini? Penyakit autoimun sampai saat ini merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat dicegah. Tapi kita tidak perlu takut penyakit ini bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Jadi ketika anda mendapatkan gejala-gejala dari penyakit ini segeralah melakukan perawatan medis. Sebagai contoh artis cantik Ashanty yang belum lama ini menderita penyakit autoimun maka hal yang ia lakukan adalah melakukan perawatan medis di rumah sakit.

Untuk penyakit yang satu ini perlu diketahui adalah, gejala yang dirasakan penderita bisa ringan atau parah tergantung pada kondisi penderita. Tetapi ada beberapa gejala yang timbul bisa sama pada setiap penderita untuk penyakit yang langka ini, seperti rasa lelah yang berlebihan dan berkepanjangan, kesemutan pada tangan dan kaki, nyeri yang dirasakan pada sekujur tubuh, sering terserang sariawan, kerontokan rambut yang parah, tidak fokus saat beraktivitas, muncul ruam pada kulit dan adanya gatal-gatal pada kulit dengan warna kemerahan.

Ketika ada telah mengalami gejala – gejala seperti di atas anda bisa segera pergi ke dokter atau tenaga medis. Sangat diharapkan untuk tidak menunda karena perawatan sedini mungkin dapat membantu dalam kesembuhan anda.

* Penulis adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan / Ilmu Keperawatan Universitas Dela Salle Manado.

Bagikan !
Beri Donasi

ZONAPEDIA

Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, dan Bumi dengan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satu penentuan waktu adalah penentuan awal bulan Hijriah yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Penentuan awal bulan Hijriah ini sangat penting bagi umat Islam dalam penentuan awal tahun baru Hijriah, awal bulan Ramadlan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.

Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai institusi pemerintah salah satu tupoksinya adalah memberikan pelayanan data tanda waktu dalam penentuan awal bulan Hijriah. Untuk itu, BMKG menyampaikan informasi Hilal saat Matahari terbenam, pada hari Selasa dan Rabu, tanggal 24 dan 25 Maret 2020 Masehi sebagai penentu awal bulan Sya’ban 1441 Hijriah.

Berikut penjelasan pihak BMKG:

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa ini akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 Masehi, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 4,203⁰.

Periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 17 jam 56 menit. Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizonteramati.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 24 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS.(Sumber: BMKG)

Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Berdasarkan hal-hal di atas, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 25 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS. (Sumber: BMKG)

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 M, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT. Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 24 Maret 2020 berkisar antara 0,52⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 1,73⁰ di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 25 Maret 2020 berkisar antara 9,91⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 11,2⁰ di Calang, Aceh 4.

Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 4,52⁰ di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 4,74⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 10,73⁰ di Waris, Papua sampai dengan 12,00⁰ di Sabang, Aceh.

Umur bulan di Indonesia pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara -0,7 jam di Waris, Papua sampai dengan 2,35 jam di Sabang, Aceh. Adapun umur bulan di Indonesia pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 23,3 jam di Waris, Papua sampai dengan 26,35 jam di Sabang, Aceh.

Lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 3,54 menit di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 9,23 menit di Parigi, Jawa Barat. Sementara lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 44,09 menit di Waris, Papua sampai dengan 49,37 menit di Sabang, Aceh.

Fraksi Ilumiaasi Bulan (FIB) pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 0,156% di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 0,172% di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun FIB pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 0,88% di Waris, Papua sampai dengan 1,10% di Sabang, Aceh.

Pada tanggal 24 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan. Demikian juga pada tanggal 25 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan.

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com