Connect with us

ZONAPEDIA

Mengenal apa itu Stunting?

Pada tahun 2019, survei membuktikan sekitar 30 persen balita Indonesia mengalami stunting.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pixabay.com

Oleh: Aloysius Mariano Rorimpandey *

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Pada tahun 2019, survei membuktikan sekitar 30 persen balita Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak aspek, mulai dari aspek pendidikan hingga ekonomi.

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto, menjadikan penurunan angka stunting menjadi salah satu program utama sesuai arahan presiden.
Kasus stunting ditargetkan bisa turun dalam tiga tahun mendatang.

Strategi penurunan stunting ini, dilakukan dengan bersinergi melibatkan beberapa kementerian lembaga serta koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Percepatan penanganan stunting tahun 2020 kelak diperluas ke 260 kabupaten/kota dari yang sebelumnya 160 kabupaten/kota pada 2019.

Ada dua program penurunan stunting yang akan dilakukan pemerintah dalam menangani masalah ini.

Program pertama adalah pengadaan software yang berisi program penurunan stunting. Pembuatan software ini digawangi Direktorat Kesehatan Masyarakat. Dan program kedua melibatkan puskesmas, yang fungsinya kembali menjadi preventif dan promotif bukan kuratif.

Penyebab anak mengalami stunting :

1.Pengetahuan ibu yang kurang memadai sejak di dalam kandungan.

Bayi sudah membutuhkan berbagai nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk mencapai ini, ibu harus berada dalam keadaan sehat dan bergizi baik. Jika ibu tidak memiliki pengetahuan akan asupan nutrisi yang baik untuknya dan janin, hal ini akan sulit didapatkan.

2.Infeksi berulang atau kronis.

Penyakit infeksi berulang yang dialami sejak bayi menyebabkan tubuh anak selalu membutuhkan energi lebih untuk melawan penyakit. Jika kebutuhan ini tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, anak akan mengalami kekurangan gizi dan akhirnya berujung dengan stunting.

3.Sanitasi yang buruk.

Sulitnya air bersih dan sanitasi yang buruk dapat menyebabkan stunting pada anak. Penggunaan air sumur yang tidak bersih untuk masak atau minum disertai kurangnya ketersediaan kakus merupakan penyebab terbanyak terjadinya infeksi. Kedua hal ini bisa meninggikan risiko anak berulang-ulang menderita diare dan infeksi cacing usus (cacingan).

4.Terbatasnya layanan kesehatan masih ada daerah tertinggal di Indonesia yang kekurangan layanan kesehatan.

Padahal, selain untuk memberikan perawatan pada anak atau ibu hamil yang sakit, tenaga kesehatan juga dibutuhkan untuk memberi pengetahuan mengenai gizi untuk ibu hamil dan anak di masa awal kehidupannya.

Dampak stunting terhadap kesehatan anak:

1.Kecerdasan anak di bawah rata-rata sehingga prestasi belajarnya tidak bisa maksimal.
2.Sistem imun tubuh anak tidak baik sehingga anak mudah sakit.
3.Anak akan lebih tinggi berisiko menderita penyakit diabetes, stroke, dan kanker, penyakit jantung.

Berikut hal-hal yang harus diingat untuk mencegah stunting:

• Mengonsumsi makanan dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan selama hamil dan selama menyusui.
• Memberikan nutrisi yang baik kepada si kecil, seperti memberikan ASI eksklusif dan nutrisi yang penting lainnya seiring pertambahan usia.
• Rutin memeriksakan kehamilan serta pertumbuhan dan perkembangan anak setelah lahir.
• Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan sebelum makan, serta memiliki sanitasi yang bersih di lingkungan rumah.

* Penulis adalah Mahasiswa di Universitas Katolik De La Salle Manado

Bagikan !
Beri Donasi

ZONAPEDIA

Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, dan Bumi dengan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satu penentuan waktu adalah penentuan awal bulan Hijriah yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Penentuan awal bulan Hijriah ini sangat penting bagi umat Islam dalam penentuan awal tahun baru Hijriah, awal bulan Ramadlan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.

Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai institusi pemerintah salah satu tupoksinya adalah memberikan pelayanan data tanda waktu dalam penentuan awal bulan Hijriah. Untuk itu, BMKG menyampaikan informasi Hilal saat Matahari terbenam, pada hari Selasa dan Rabu, tanggal 24 dan 25 Maret 2020 Masehi sebagai penentu awal bulan Sya’ban 1441 Hijriah.

Berikut penjelasan pihak BMKG:

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa ini akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 Masehi, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 4,203⁰.

Periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 17 jam 56 menit. Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizonteramati.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 24 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS.(Sumber: BMKG)

Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Berdasarkan hal-hal di atas, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 25 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS. (Sumber: BMKG)

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 M, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT. Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 24 Maret 2020 berkisar antara 0,52⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 1,73⁰ di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 25 Maret 2020 berkisar antara 9,91⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 11,2⁰ di Calang, Aceh 4.

Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 4,52⁰ di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 4,74⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 10,73⁰ di Waris, Papua sampai dengan 12,00⁰ di Sabang, Aceh.

Umur bulan di Indonesia pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara -0,7 jam di Waris, Papua sampai dengan 2,35 jam di Sabang, Aceh. Adapun umur bulan di Indonesia pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 23,3 jam di Waris, Papua sampai dengan 26,35 jam di Sabang, Aceh.

Lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 3,54 menit di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 9,23 menit di Parigi, Jawa Barat. Sementara lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 44,09 menit di Waris, Papua sampai dengan 49,37 menit di Sabang, Aceh.

Fraksi Ilumiaasi Bulan (FIB) pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 0,156% di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 0,172% di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun FIB pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 0,88% di Waris, Papua sampai dengan 1,10% di Sabang, Aceh.

Pada tanggal 24 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan. Demikian juga pada tanggal 25 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan.

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com