Connect with us

ZONAPEDIA

Pengaruh kurangnya hormon estrogen dalam proses penuaan kulit pada wanita

Proses penuaan ini dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik (dari luar) dan intrinsik(dari dalam).

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi dari Pixabay.com

Oleh Mahasiswa: Josepha F. Lumansik *

Proses menua pada kulit atau lebih dikenal dengan nama skin aging adalah suatu proses alamiah yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup.

Hal ini disebabkan adanya kemunduran fungsi organ-organ tubuh termasuk kulit. Walaupun demikian proses ini tidak disukai bahkan lebih sering ditakuti kehadirannya terutama oleh kaum wanita.

Proses menua pada kulit timbulnya tidak sama pada setiap orang, ada yang sesuai dengan usianya, sedangkan lainnya dapat timbul lebih dini yang disebut proses menua dini (premature aging).

Proses penuaan ini dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik (dari luar) dan intrinsik(dari dalam).

Faktor ekstrinsik seperti: cuaca, sinar matahari, cara perawatan kulit yang salah, radikal bebas, gizi yang buruk, kebiasaan merokok, minum kopi, minum alkohol, stress dan penyakit menahun.

Sedangkan faktor intrinsik seperti faktor genetik, Ras, hormonal, juga mempengaruhi proses penuaan kulit.

Faktor ekstrinsik dapat dicegah, sedangkan faktor intrinsik seperti ras dan genetik tidak dapat diubah, namun faktor hormonal pada masa sekarang sudah dapat diperlambat dengan pemberian hormone pengganti yang dikenal dengan Hormone Replacement Theraphy (HRT).

Terdapat banyak penjelasan mengenai proses penuaan yang terjadi pada manusia, salah satunya adalah teori hormon (neuroendokrin).

Teori neuroendokrin berdasarkan pada peranan berbagai hormon bagi fungsi organ tubuh. (Goldman dan Klatz, 2003).

Apa itu hormon estrogen?

Hormon pada wanita yang mempengaruhi proses penuaan pada kulit erat hubungannya dengan hormon estrogen yang sebagian besar dihasilkan oleh ovarium dan dalam jumlah sedikit dihasilkan oleh korteks kelenjar adrenal.

Hormon estrogen termasuk hormon steroid yang mulai diproduksi oleh ovarium wanita pubertas pada masa menarche yaitu antara 9 – 16 tahun (rata-rata 14 tahun).

Telah diketahui bahwa penurunan kadar estrogen tersebut dalam tubuh akan mempengaruhi proses biologi di kulit, karena di kulit juga terdapat reseptor–reseptor untuk estrogen, dan yang paling banyak adalah diwajah dan dorsum tangan.

Efek estrogen terhadap kulit adalah:

  1. Terhadap epidermis: estrogen bersifat epidermopoetik yang mempengaruhi mitosis sel–sel keratinosit.
  2. Terhadap dermis: mempengaruhi fibroblas untuk mensistesis kolagen, elastin dan substansi dasar makroprotein seperti asam hialuronit yang dapat mengikat air sehingga kulit menjadi lembab.
  3. Terhadap kelenjar sebasea: mempengaruhi produksi kelenjar sebasea sehingga kulit tidak kering.

Bila terjadi kekurangan hormon estrogen, maka kulit akan menjadi kasar, kering, keriput, kendor dan kerut/lipatan kulit yang jelas.

Berikut ini jenis makanan yang dapat membantu meningkatkan estrogen dalam tubuh:

  1. Bit (Umbi Merah)
    Salah satu tanaman umbi ini kaya akan phytoestrogen dan dapat membantu menyeimbangkan kadar hormon ini dalam tubuh. Selain itu, bit juga terkenal karena manfaatnya pada kecantikan.
  2. Wortel
    Buah berwarna oranye ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan kecantikan. Tidak hanya kaya akan estrogen, tetapi juga kaya akan antioksidan dan menjauhkan wanita dari hot flashes. Hot flashes atau rasa panas tiba-tiba biasanya terjadi karena ketidakseimbangan atau kurangnya estrogen dalam tubuh.
  3. Timun
    Timun kaya akan air dan mengandung phytoestrogen. Sebaiknya, selama musim kemarau pastikan untuk menambahkan sayur-sayuran hijau dalam menu makanan Anda.
  4. Tofu
    Makanan berbahan dasar susu kedelai ini tidak hanya rendah lemak, tetapi juga memiliki kandungan phytoestrogen dan dapat menyeimbangkan hormon di dalam tubuh.
  5. Susu Kedelai
    Susu kedelai ternyata kaya akan estrogen, zat besi, dan kalsium dan sangat disarankan untuk perempuan. Kurangnya estrogen dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan termasuk kurangnya minat dalam bercinta. Tetapi jika terlalu banyak pun dapat mengganggu kondisi kesehatan.

Keseimbangan hormonal dalam tubuh sangat penting. Jadi, jangan ragu-ragu untuk mengonsumsi nutrisi sehat untuk menjaga keseimbangan hormonal Anda.

* Penulis adalah Mahasiswa jurusan Ilmu keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado

Bagikan !
Beri Donasi

ZONAPEDIA

Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, dan Bumi dengan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satu penentuan waktu adalah penentuan awal bulan Hijriah yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Penentuan awal bulan Hijriah ini sangat penting bagi umat Islam dalam penentuan awal tahun baru Hijriah, awal bulan Ramadlan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.

Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai institusi pemerintah salah satu tupoksinya adalah memberikan pelayanan data tanda waktu dalam penentuan awal bulan Hijriah. Untuk itu, BMKG menyampaikan informasi Hilal saat Matahari terbenam, pada hari Selasa dan Rabu, tanggal 24 dan 25 Maret 2020 Masehi sebagai penentu awal bulan Sya’ban 1441 Hijriah.

Berikut penjelasan pihak BMKG:

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa ini akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 Masehi, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 4,203⁰.

Periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 17 jam 56 menit. Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizonteramati.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 24 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS.(Sumber: BMKG)

Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Berdasarkan hal-hal di atas, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

zonautara.com
Peta ketinggian Hilal tanggal 25 Maret 2020 untuk pengamat antara 60⁰ LU s.d. 60⁰ LS. (Sumber: BMKG)

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ akan kembali terjadi pada hari Selasa, 24 Maret 2020 M, pukul 09.28 UT atau pukul 16.28 WIB atau pukul 17.28 WITA atau pukul 18.28 WIT. Di wilayah Indonesia pada tanggal 24 Februari 2020, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.46 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 24 Februari 2020 di wilayah Indonesia bagian Timur dan sebelum Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat.

Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Sya’ban 1441 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya dapat dibagi dua. Bagi pengamat di wilayah Indonesia Timur, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020.

Adapun bagi pengamat di wilayah Indonesia Tengah dan Barat, pelaksanaan rukyatnya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 25 Maret 2020. Sementara itu bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Sya’ban 1441 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 24 dan 25 Maret 2020 tersebut.

Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 24 Maret 2020 berkisar antara 0,52⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 1,73⁰ di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 25 Maret 2020 berkisar antara 9,91⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 11,2⁰ di Calang, Aceh 4.

Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 4,52⁰ di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 4,74⁰ di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun Elongasi saat Matahari terbenam tanggal 24 Maret 2020 di Indonesia berkisar antara 10,73⁰ di Waris, Papua sampai dengan 12,00⁰ di Sabang, Aceh.

Umur bulan di Indonesia pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara -0,7 jam di Waris, Papua sampai dengan 2,35 jam di Sabang, Aceh. Adapun umur bulan di Indonesia pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 23,3 jam di Waris, Papua sampai dengan 26,35 jam di Sabang, Aceh.

Lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 3,54 menit di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 9,23 menit di Parigi, Jawa Barat. Sementara lag saat Matahari terbenam di Indonesia tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 44,09 menit di Waris, Papua sampai dengan 49,37 menit di Sabang, Aceh.

Fraksi Ilumiaasi Bulan (FIB) pada tanggal 24 Maret 2020 berkisar antara 0,156% di Seba, Nusa Tenggara Timur sampai dengan 0,172% di Melonguane, Sulawesi Utara. Adapun FIB pada tanggal 25 Maret 2020 berkisar antara 0,88% di Waris, Papua sampai dengan 1,10% di Sabang, Aceh.

Pada tanggal 24 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan. Demikian juga pada tanggal 25 Maret 2020, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan dengan jarak sudut lebih kecil daripada 5⁰ dari Bulan.

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com