Connect with us

OPINI

Corona? . . . Ada ubi di kebun kita!

Corona sesungguhnya hanyalah pemeran pembantu dalam mengejawantahkan judul percepatan kesemrawutan, sebelum pada akhirnya tamat.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi: Pixabay.com

Oleh: Neno Karlina

“Suatu saat, akan kita dapati orang yang terbaik di antara kita adalah pengembala yang hidup jauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia—rasanya waktunya tak lama lagi.”

Tak ingat persis penggalan kalimat ini muasalnya aku sadur dari mana. Hanya, tiba-tiba sepuhan penggalannya berhasil memenggal-menggal ketakutan di titik terlemah pemikiranku, dan barangkali bisa jadi solusi untuk kekuatiran para akuntan, yang mulai kewalahan menghitung kekuatan harta kekayaan Indonesia sejak sepekan terakhir. Bagaimana mendapat trik bertahan hidup menghadapi dampak ulah monster super nyebelin Covid 19. Kepiawaiannya bermutasi dan menular serupa jurus tapak bumi, memukul selintas, cepat, tepat, dan tanpa disadari berhasil membuat takjub, dengan satu kedipan.

Ekonomi mulai anjlok, nilai tukar rupiah melemah, jumlah orang sakit bertambah, krisis dan segalanya terus terangkum bersama data di ruangan kamar, yang kini terpaksa bertambah fungsi menjadi kantor untuk masa-masa sosial distancing seperti ini. Lalu hasrat menumpuk bahan baku mulai melaju lalu-lalang liar di pikiran, enggan parkir. Beberapa orang bahkan mencuri start berbondong membeli berkarton-karton mie instant untuk persiapan kepastian krisis ramalan para ekonom.

Kenyataan tentang masker langka, hand sanitizer habis, adalah bayangan jangka panjang dari tumpukan ketakutan masyarakat soal beras, tepung, minyak goreng, telur dan ketersediaan bahan makanan, yang bukan tidak mungkin juga akan sulit didapatkan pada hari-hari kedepan.

Dan kemudian pertanyaan “bagaimana”, bertubi-tubi datang menyandera otak dan hati. Sungguh jika kau ingin berbantah-bantahan tentang “bagaimana-bagaimana” itu, tak habislah 14 hari untuk menumpahkan air ludah. Tapi apa faedahnya? Keyakinan tidak didapat di Google dan hidayah tidak dijual di supermarket. Dari sudut pandang manapun hanya membuatku tertawa: lucu!

Dibangunkan oleh suara realitas itu, hati tampaknya lebih sakit dari terkena penyakit. Faktanya, kita dan virus sama-sama ingin hidup. Laksana bilang kesalahan kita ada dua. Kita tidak mau pensiun dari bekerja keras, dan kita benci kelambanan. Tapi kita ada di situasi di mana kesadaran kita akan langit biru, hidup sehat, damai, dan baik-baik saja, bisa jadi sama  dengan kesadaran yang lahir di diri seorang Italian, atau penduduk Wuhan. Apa bedanya?

Selain dipercaya lebih cepat tanggap, Cina, Korea Selatan, dan Italia semisal, adalah negara dengan berlimpah kemajuan, teknologi, pun ekonomi. Meski bergerak di lintasan siput, optimitas soal kemampuan mereka hampir bisa memastikan, bahwa mereka tidak hanya mampu menyembuhkan pasien covid-19, akan tetapi juga bisa membangun kembali kekuatan negara yang nyaris ambruk dari kekacauan.

Lantas, bagaimana Indonesia? Mau tidak mau, kita harus terima posisi sebagai negara pesakitan. Tanpa bujuk rayu termaut kuman-kuman ini pun, Indonesia terlanjur krisis karena hutang. Tak banyak waktu untuk menghindar dari dosa pinjaman terdahulu. Corona sesungguhnya hanyalah pemeran pembantu dalam mengejawantahkan judul percepatan kesemrautan, sebelum pada akhirnya tamat.

Separah itukah? Tidak kawan. Demi yang akan hilang, warisan kutuk kata busuk dan jilidan buku reka utang, biarlah hanya terampil jadi liliput kecil tersaput indera. Indah berlumut, beludru hamparan kabut, atau jerebu katarak, cukup. Cukup di situ!

Kita tak boleh lagi dibuat keriput atau mati karena hunusan ketajaman pedang ketidakberdayaan. Jamrud katulistiwa yang kita punya dengan sedikit keberanian, akan membawa kita pada sebuah kemurnian kesadaran, bahkan kita hidup di tanah yang tongkat dan kayu bisa mengakar kuat, bertumbuh meninggi jadi tanaman yang bisa memberi buah-buah untuk kita kunyah-kunyah.

Di kebun ada ubi. Di ladang ada jagung. Kalau pun tidak, maka tanamlah. Mengumpati semua kesialan situasi ini, tidak bisa serta merta membuat kita lupa kelebihan kita sebagai manusia yang ditakdirkan jadi warga Indonesia. Teristimewa yang tinggal di bentangan daratan Sulawesi Utara. Keterlaluan rasanya, jika tak bisa mengambil contoh dari pelajaran-pelajaran yang diberi oleh buyut, yang kesemuanya adalah penabur bebiji di sawah, pemanah ulung di sungai, pelayar tangguh di lautan.

Tuhan tidak menciptakan segalanya dengan sia-sia. Tentu mengembala jauh ke dalam absurditas-Nya tidaklah mudah. Tapi bukan itu yang ingin aku katakan. Maksudku adalah, mungkin kita bisa kehilangan banyak kekuatan finansial, tapi tidak dengan daya upaya. Terlalu ketakutan mengacau otak, hingga kita lupa berpikir, banyak lahan yang terparkir untuk bisa menyediakan kita makan. Kembali menepi dari hiruk pikuk dan belajar menghargai pemberian bumi. Mencintai tanah air.

Menyadari bahwa tanah air bukan hanya segenggam tanah dan sebotol air. Tapi juga sepotong hati. Kita bisa menikmati buah-buahan dan masa panen tanpa batas, kita bisa menimbun biji-bijian untuk anak cucu kita, tapi tak pernah mau menanam hati kita untuk bumi ini.

Tanamlah dan tenanglah!.

Neno Karlina – Wartawan Totabuan.news, bermukim di Kota Kotamobagu, penulis lepas dan pemilik website: adeevacalista.com

Dia bisa dihubungi melalui Instagram @neno_karlina

Bagikan !

OPINI

Menelikung di momen tragedi kemanusiaan

Keputusan paripurna DPR hari ini dengan sadar mengajak kaum buruh meninggalkan rumah dan pabrik menuju pusat kekuasaan.

Bagikan !

Published

on

Catatan Timboel Siregar *

DPR RI hari ini (kemarin -red) sepakat membawa RUU omnibus law Cipta Kerja (Ciptaker) untuk diserahkan ke Badan Legislasi (Baleg). Hal ini diputuskan pada rapat paripurna DPR. Dengan adanya putusan paripurna ini maka RUU omnibus law Cipta Kerja akan segera dibahas.

Tentunya keputusan DPR tersebut sangat disesali dan sangat tidak tepat di tengah kondisi Ibu Pertiwi yang terus menerus menangis karena anak bangsa setiap hari menghadap Penciptanya lantaran terinfeksi Covid 19.

Seharusnya Pemerintah dan DPR fokus saja dulu dalam penanganan Covid 19. Omnibus law Ciptaker yang dipaksakan ini pastinya akan menuai banyak protes dari berbagai pihak seperti SP/SB dan kalangan buruh, akademisi, penggiat hukum, ekonom aktivis lingkungan, dsb dsb.

Tragedi Covid 19 ditunggangi oleh kepentingan sekelompok orang yang memakai kekuasaan untuk menggolkan keinginan jahatnya. Tidak elok dan tidak bijak bila DPR dan Pemerintah menelikung di momen tragedi kemanusiaan ini. Semua orang disuruh diam di rumah, bekerja dan beribadah dari rumah, tapi secara sadar DPR dan Pemerintah menaikkan tensi politik dengan memanas-manasi banyak pihak yang tidak setuju dengan omnibus law Ciptaker ini.

Keputusan paripurna DPR hari ini dengan sadar mengajak kaum buruh meninggalkan rumah dan pabrik menuju pusat kekuasaan, hanya untuk menolak omnibus law Ciptaker.

Rasionalisasi sosial atau physically distancing yang setiap saat dikumandangkan para pejabat mungkin akan menjadi seruan basa basi tanpa makna lagi.

Pandemik Covid 19 akan terus meluas dan bangsa ini akan semakin sulit keluar dari tragedi kemanusiaan ini, hanya karena Pemerintah dan DPR berhasil dikendalikan kepentingan sekelompok orang yang memang menginginkan bangsa ini menjadi budak kepentingan mereka.

Sebelum terjadi penyesalan di kemudian hari, saatnya DPR dan Pemerintah membatalkan pembahasan omnibus law Ciptaker. Jangan memaksakan kehendak. Fokus “perang” melawan covid 19, jangan malah nantangin buruh untuk turun ke jalan.

Penulis Timboel Siregar adalah Koordinator Advokasi BPJS Watch

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com