ZONAUTARA.com – Sebagai seseorang yang berisiko lebih tinggi terpapar virus SARS Cov-2 karena memiliki kondisi penyerta, yaitu obesitas, dokter Miftah Fawzy Sarengat telah disarankan supaya tidak bertugas di bagian isolasi pasien Covid-19.

Akan tetapi panggilan jiwa dan tanggung jawabnya sebagai dokter mengalahkan segalanya. Tanpa kenal lelah, dokter Miftah tetap bersemangat mengupayakan sebanyak mungkin pasien Covid-19 untuk sembuh.

Dokter Miftah menunjukkan gejala seperti lazimnya gejala Covid-19, yaitu demam, batuk, dan muntah. Sempat diperiksa dengan rapid test, tapi hasilnya non-reaktif.

Setelah dilakukan pemeriksaan CT scan dada dan swab, dokter Miftah diketahui menderita pneumonia dan positif terinfeksi virus SARS Cov-23.

Setelah dirawat intensif di ruang ICU RSU Dr Soetomo dan sempat diberi terapi plasma konvalesen, dokter yang berjuang ikhlas merawat pasien COVID-19 ini akhirnya harus menyerah pada takdirnya. Dia berpulang ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa pada 10 Juni 2020, sekitar pukul 06.30 WIB.

Meninggalkan seorang istri yang pada saat itu juga sedang dirawat karena terinfeksi Covid-19, almarhum dimakamkan di Magetan atas permintaan keluarga. Sebelumnya, almarhum menerima penghormatan terakhir di sepanjang jalan di RSU Dr Soetomo sampai ke Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya.

Ketika pandemi Covid-19 menerjang wilayah Surabaya, dokter Miftah adalah dokter yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Dr Soetomo. Kala itu ia sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam di FK Unair.

Dikenal sebagai sosok dengan sikap kepemimpinan yang baik, dokter Miftah juga diberi tugas sebagai Chief of Residents sejak tahun 2015.

Melalui laporcovid19, Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp. U(K), Dekan FK Unair mengungkapkan, risiko menjadi dokter di masa pandemi Covid-19 ini memang sangat tinggi.

“Kami merasa sangat kehilangan. Dr Miftah adalah sosok dokter yang rajin, pekerja keras dan calon dokter terbaik kami karena sebelum wafat almarhum masih menempuh pendidikan spesialis,” tulis Soetojo.

Bagikan !