Mengenal Apitalawu, desa di pesisir Boalemo yang sulit dijangkau tapi punya akses internet

  • Share
Desa Apitalwu di Paguyaman Pantai, Boalemo, Gorontalo
Tampak sebagian desa Apiatalwu di Kecamatan Paguyaman Pantai, Kab. Boalemo, Gorontalo. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

ZONAUTARA.comApitalawu merupakan salah satu dari delapan desa yang ada di Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Konon, Apitalawu dulunya adalah sebuah tanjung yang ditemukan oleh seorang kapten kapal bernama Temi Apitalawu.

Temi yang kala itu berlayar dari Kotamadya (mungkin Kota Gorontalo sekarang-red), menjadi orang pertama yang tinggal di tanjung. Seiring waktu, tanjung yang didiami Temi, mulai jadi wilayah permukiman. Tanjung itu lantas diberinama Tanjung Apitalawu, dan sekarang berkembang menjadi sebuah desa.

Tanjung Apitalawu semakin dikenal, dikarenakan dahulu Temi Apitalawu sering didaulat menjadi orang pertama yang berdoa saat melakukan tradisi pemasangan lampu (tumbilotohe) pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Bukan hanya di Apitalawu, bahkan di wilayah sekitarnya.

Untuk bisa berkunjung ke Desa Apitalawu, tidaklah mudah, butuh waktu hampir dua jam dari pusat Kecamatan Paguyaman Pantai, terutama menggunakan jalur darat saat musim penghujan. Akses jalan yang buruk menjadi kendala tersendiri.

Jalan sepanjang enam kilometer yang jadi penghubung satu-satunya tiga desa terujung di kecamatan ini, (Desa Lito, Apitalawu, dan Olibu) sangat sulit dilalui. Tidak hanya berliku, tetapi juga menanjak, licin dan curam.

Tak jarang kendaraan terjebak lumpur, bahkan sampai terperosok ke dalam jurang. Selain itu, jarak dari satu desa ke desa lain sangat jauh, bahkan di Apitalawu sendiri, jarak antara satu dusun ke dua dusun lainnya cukup jauh.

Namun akses keluar masuk desa yang sulit, tak menyurutkan semangat warga desa Apitalawu. Penduduk desa berupaya agar tetap bisa memasarkan semua hasil panen. Meski berada di bagian pesisir, produksi utama desa Apitalawu adalah jagung dan cabe.

Apitalawu
Suasana sore di Apitalawu. (Foto: Neno Karlina)

Dengan mengandalkan jasa “kijang”, atau ojek barang, sebuah alat transportasi menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi, jagung dan hasil panen lainnya diangkut dan dipindahkan dari desa untuk dipasarkan. Biayanya tak murah. Banyak petani harus merelakan lebih dari setengah bahkan hampir seluruh hasil panen hanya untuk membayar ongkos kijang.

Desa Apitalawu terdiri dari tiga Dusun; Leyanga, Tumba, dan Batu Jajar. Memiliki 261 kepala keluarga serta 893 jiwa, yang semuanya memeluk agama Islam.

Dalam melakukan aktifitas pekerjaannya, warga desa selalu mengandalkan navigasi alam. yang turut mempengarui hasil produksi utama desa. Hampir semua warga desa tercatat sebagai nelayan. Namun, saat musim ombak, mereka lebih memilih berkebun. Setidaknya, itu yang dikatakan Sekretaris Desa Apitalawu, Rusman Hanapi, (42), pada Sabtu, (26/09/2020) lalu, saat Zonautara.com berkunjung ke sana.

Ojek kijang
Suasana desa Apitalawu. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

“Saat musim ombak, warga yang tadinya di perahu (mencari ikan), akan bercocok tanam. Jadi, meski ada di dekat laut, ikan bukanlah produksi utama kami. Kadang untuk memenuhi kebutuhan kami harus membeli ikan dari Kwandang,”ucap Rusman.

Menurut Rusman, dibanding desa lain di Boalemo, Apitalawu termasuk desa tertinggal. Akses masuk yang sulit membuat desa ini begitu susah berkembang. Meski begitu, segala keterbatasan tak membuat warga bersama aparat desanya menyerah.

Segala upaya dilakukan untuk memperoleh informasi. Di desa ini tidak ada jaringan seluler, namun punya akses internet. Akses internet dijangkau dengan fasilitas ISP swasta. Tentu ini tidak gratis. Untuk bisa menggunakan layanan ini, warga desa harus membayar. Tapi ini masih lebih baik, ketimbang sebelumnya, ketika informasi hanya bisa diperoleh dengan cara mendatangi kecamatan.

“Kita semua menggunakan WhatShapp, kalau nomor telepon (seluler) biasa, kita tidak bisa,” kata Rusman.

Akses buruk ini juga turut mempengaruhi pemenuhan gizi. Apitalawu masih memiliki angka stunting yang tinggi. Sekitar 20-an anak tercatat sebagai penderita stunting. Pemerintah desa terus berupaya menekannya, dengan memberikan pelayanan intens melalui Puskesmas Pembantu.

“Bidannya sekarang tinggal di sini. Sehingga sudah bisa pelayanan tiap saat. Kami juga bingung indikator (stunting) utamanya. Yang jelas, kami terus berupaya agar semua anak di Apitalawu mendapatkan gizi yang sama, seperti anak di kota atau di desa yang lebih baik aksesnya,” ucap Rusman.

Angkat air
Warga mengambil air bersih. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Desa indah dengan jejeran bukit-bukit ini, termasuk desa yang juga susah mendapatkan air bersih. Setiap pagi dan sore, warga desa akan lalu lalang mengambil air bersih, untuk dibawah ke rumah masing-masing. Memang, beberapa sudah menggunakan pompa air. Tapi tetap saja, saat musim kemarau, air akan mengering.

Segala keterbatasan ini tak membuat warga desa Apitalawu menjadi pesimis dan tertutup. Senyum ramah selalu terlempar, terutama saat ada pendatang.

Kearifan lokalnya, membuat penduduk desa ini tak akan sungkan menolong. Berharap, dengan semakin banyak kunjungan dari luar, bisa membawa informasi dan dampak positif agar desa ini akan lebih cepat berkembang.

Penulis: Neno Karlina Paputungan



  • Share

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com