ZONAUTARA.com – Di masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia terhempas dan harus gulung tikar akibat kehilangan banyak peluang bisnis. Namun UMKM seperti Manado Eco Craft`s yang beralamat di Jalan Tongkaina, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) tetap berdenyut meski sedang di masa yang sulit.

Usaha yang dirintis oleh pasangan suami-istri Hendri Johanis dan Elis Purede sejak tahun 2018 ini, tetap menerima pesanan souvenir yang relatif stabil. Tak heran keluarga ini bisa meraup keuntungan sekitar Rp300 ribu per hari atau sekitar Rp6 juta per bulannya.

Menurut Hendri Johanis, ide memroduksi souvenir berbahan dasar batok kelapa ini terdorong kondisi pariwisata di Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, yang mulai ramai didatangi pelancong  domestik dan mancanegara.

zonautara.com
Ketekunan menjadi kunci Hendri Johanis dalam mengolah tempurung kelapa menjadi hasil kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.(Image: zonautara.com/Tonny Rarung)

“Banyak turis-turis yang berdatangan di Tongkaina. Akhirnya, kami berniat membuat suatu usaha kerajinan tangan yang dapat diolah dan dijual kepada turis-turis,” kata Hendri, Senin (02/11/2020).

Di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, Hendri dan istrinya tidak kekurangan akal memasarkan produk kerajinan tangan yang mereka produksi. Media sosial serta lapak penjualan online lainnya seperti Shopee dan Tokopedia menjadi pilihan yang mampu menjembatani keterbatasan jarak dengan pelanggan.

Namun bila ada pelanggan yang datang langsung ke etalase Manado Eco Craft`s yang berada di Kelurahan Tongkaina, Hendri mengharuskan untuk menerapkan protokol kesehatan, mulai dari cuci tangan, memakai masker, dan jaga jarak.

Elis Purede, istri Hendri, turut bercerita bahwa di awal-awal menjalankan usaha kerajinan tangan, ia tertarik pada ramainya penjualan bunga-bunga di Sulut. Hal itu kemudian menginspirasinya untuk membuat kerajinan pot bunga dari bahan tempurung kelapa.

“Tempurung itu dirangkai seunik mungkin agar bisa menarik hati para pencinta bunga,” ujar Elis.

Kerajinan tangan yang dihasilkan Manado Eco Craft`s, imbuh Elis, terbanyak menggunakan bahan dasar tempurung. Selain bahannya mudah didapat, juga ramah lingkungan.

zonautara.com
Pot bunga gantung yang dijual Manado Eco Craft`s.(Image: zonautara.com/Tonny Rarung)

Beraneka produk khas yang dihasilkan, di antaranya juga ada miniatur perahu yang dapat dijadikan tempat lilin, serta cenderamata yang dibuat bermotif kura-kura dan hewan endemik Sulut. Semua dijual dengan harga yang sangat ekonomis.

“Yang paling mahal produk seperti tempat lilin yang seharga Rp150 ribu. Sedangkan yang paling murah produk berukuran kecil seperti gantungan kunci yang dijual dengan harga Rp5.000,” ujarnya.

Tingginya permintaan, membuat Hendri dan Elis sebagai pengelola Manado Eco Craft`s harus menambah 2 sampai 3 orang tenaga kerja yang diperbantukan untuk menyelesaikan pesanan pelanggan.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id