ZONAUTARA.com – Foto yang terpasang di feature image dalam postingan ini diambil di salah satu sentra produksi cakalang fufu di Bitung.

Cakalang fufu menjadi salah satu ikon kuliner tradisional berupa ikan cakalang (Katsuwons pelamis) yang diasapi.

Cakalang sudah dikenal sejak dulu oleh masyarakat nelayan di Sulawesi Utara dengan metode tangkap funai yang tergolong pole and line.

Dulunya cakalang ditangkap tanpa perahu bermotor. Aertembaga di Bitung menjadi awal industrialisasi perikanan cakalang di Sulut, karena pasokan cakalang yang cukup banyak waktu itu di sekitar selat Lembeh dan Teluk Manado.

Motorisasi penangkapan cakalang dikenalkan Jepang pada 1928, lalu terhenti saat negeri matahari terbit ini kalah perang pada 1945.

Peralatan tangkap cakalang yang ditinggalkan Jepang itu digunakan pemerintah Indonesia saat mendirikan Station voor de Zee Visserij yang lantas berganti nama menjadi Yayasan Perikanan Laut pada 1950. Pada 1960 yayasan itu berubah nama menjadi Perusahaan Negara Perikani Aertembaga.

Sebuah catatan menyebut bahwa pada 1966 hasil tangkapan cakalang di Minahasa (dulu Bitung merupakan wilayah Minahasa) sudah mencapai 3.000 ton per tahun.

Kini cakalang merupakan bagian dari industri modern perikanan di Kota Bitung dengan hadirnya pabrik dan kapal-kapal penangkap modern yang sandar dan pergi dari Pelabuhan Perikanan Samudera.

Namun metode pengasapan cakalang di Bitung dan Sulut pada umumnya tetap bertahan dengan cara tradisional: ikan dibelah dua, ditusuk bambu bagian tengahnya, diasap di atas para-para dengan posisi tegak miring. Separuh ikan yang telah dijepit itu disebut satu kaki, dan menjadi kuliner paling laku di pasar tradisional se antero Sulut.

Apalagi disajikan dengan bubur Manado (tinutuan).




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id