Fenomena ‘surya pethak’ penyebab suhu udara lebih dingin

  • Share
Sumber : Pexels

ZONAUTARA.COM – Saat ini masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Pasalnya, saat ini sedang terjadi fenomena alam yang dinamakan surya pethak atau matahari tampak memutih.

Fenomena tersebut diduga menjadi alasan suhu udara menjadi lebih dingin. Fenomena ini merupakan kondisi dimana matahari terlihat putih sejak terbit hingga tenggelam. Fenomena ini umumnya terjadi saat musim penghujan.

Hal tersebut berdasarkan pada edukasi sains Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Selain itu, fenomena ini akan menyebabkan manusia lebih mudah merasa kedinginan.

“Manusia akan mudah menggigil,” kata peneliti LAPAN Andi Pangerang.

Selain itu, tumbuhan juga tidak dapat tumbuh dengan optimal dan kejadian tersebut dapat berlangsung 7 hingga 40 hari.

Menurut Andi, fenomena surya pethak adalah saat matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenam. Jika dikaitkan dengan musim, surya pethak umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, yang saat itu penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk.

“Surya pethak hanya bisa terjadi jika kualitas udara di lokasi pengamatan kurang baik, dan dari sisi meteorologis, lokasi tersebut tertutup kabut awan, sehingga penghamburan (scattering) tidak sekuat ketika langit bersih dan cerah,” katanya

Baca Pula:  Manipulasi otak untuk mengurangi keinginan makan berlebihan

Adapun penyebab munculnya surya pethak karena letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat mempengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Secara harfiah, katanya, surya “pethak” bermakna matahari tampak memutih. Surya “pethak” dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud di sini adalah dihitung sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Menurut dia sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan.

Penurunan aktivitas matahari

Fenomena surya pethak juga dikenal dengan kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi menimbulkan penurunan aktivitas Matahari, seperti yang pernah terjadi tahun 1645-1715.

Fenomena tersebut dikenal dengan Maunder Minimum yang berasal dari seorang astronom Matahari, Edward Walter Maunder dan istrinya Annie Russell Maunder.

Baca Pula:  Tentang belanja impulsif dari kacamata Neurosains

“Fenomena ini berlangsung ketika zaman es kecil atau rendahnya suhu rata-rata bagi kawasan Eropa dalam waktu yang cukup lama, antara tahun 1550 hingga 1850,” tulis Andi.

“Meskipun demikian, tidak cukup bukti bahwa Maunder Minimum ini dapat menyebabkan zaman es kecil, terlebih lagi, awal zaman es kecil lebih awal seratus tahun daripada Maunder Minimum,” lanjut Andi.

Oleh sebab itu, hubungan antara siklus Matahari dan pendinginan iklim tidak terkait sama sekali.

Apabila ada aktivitas Matahari minimum berkepanjangan, sehingga iklim Bumi mendingin (yang mana keduanya tidak terbukti), maka pendinginan dari aktivitas Matahari minimum yang berkepanjangan tidak mungkin mengurangi pemanasan yang disebabkan manusia dalam jangka panjang.

“Dalam waktu dekat ini, fenomena surya pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikatikan dengan aktivitas Matahari,” ujar Andi.

Kendati demikian, masih ada kemungkinan lain yang menjadi penyebab terjadinya fenomena ini. Kemungkinan lain yakni adanya letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut.

  • Share

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com