ZONAUTARA.com — Manusia memang tak luput dari kebohongan. Alat pendeteksi kebohongan telah banyak diperkenalkan. Namun, apakah anda tahu bagaimana cara kerjanya?

Sebuah studi menemukan bahwa 60 persen orang ditemukan berbohong setidaknya satu kali selama menjalin percakapan dalam sepuluh menit. Kebohongan bisa dilakukan dari hal-hal kecil sampai hal yang besar.

Beberapa orang juga percaya bahwa mereka berbohong demi kebaikan, atau bahkan dilakukan atas dasar kebencian. Apapun alasannya, tubuh kita saat berbohong memiliki reaksi yang sama.

Apa yang terjadi pada tubuh saat kita berbohong?

Penelitian telah menunjukkan bahwa kebohongan membutuhkan lebih banyak usaha daripada tak berbohong. Maka, seseorang lebih membutuhkan waktu lama saat dia menjawab pertanyaan dengan berbohong daripada menjawab dengan jujur.

Selain itu, saat kita melakukan kebohongan, maka detak jantung akan meningkat, dalam kasus tertentu juga seseorang bisa berkeringat. Pengecualian untuk psikopat yang tak memiliki empati, mereka menunjukkan respon fisiologis yang berbeda saat berbohong.

Menurut studi, tiga area utama dalam otak yang berperan penting dalam kebohongan, di antaranya, lobus frontal yang bekerja untuk menekan kebenaran.

Yang kedua adalah lobus temporal untuk memberi respon dan membentuk mental, dan sistem limbik mendorong adanya kecemasan saat seseorang berbohong.

Cara kerja poligraf

Alat pendeteksi kebohongan disebut juga dengan poligraf. Poligraf sendiri ditemukan pada awal 1921 oleh seorang perwira polisi dan ahli fisiologi, John A. Larson. Alat tersebut berfungsi untuk mendeteksi respons fisiologis terhadap kebohongan seperti denyut jantung dan tekanan darah yang melonjak.

Alat ini juga mengukur perubahan terus menerus dalam tekanan darah, detak jantung, dan laju pernapasan seseorang.

Menurut American Polygraph Association, poligraf memiliki akurasi mencapai 87 persen dapat pada praktiknya, ia akan merangsang tiga bagian utama otak yang telah disebutkan di atas.

Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Vittorio Benussi, yang menemukan adanya gejala pernapasan dari kebohongan. Selain itu, pada tahun 1915, William M. Marston, menemukan bahwa, tekanan darah juga dapat mendeteksi kebohongan.

Namun, beberapa orang merupakan pembohong yang baik, sehingga ia bisa tetap tenang dan bisa mengendalikan respon stres saat berbohong, sehingga tidak terdeteksi dalam poligraf.

Jika seseorang tenang selama mengikuti tes, maka ia tak akan terdeteksi berbohong. Namun, jika terlihat respon stres yang tiba-tiba, maka tentu kebohongannya akan terdeteksi.