ZONAUTARA.com -Penggunaan emoji sudah disediakan dalam platform chat mau media sosial apa saja. Bentuknya juga sudah selaras, hanya berbeda gaya di beberapa media. Komunikasi dengan emoji ternyata penting untuk mempererat hubungan kerja.

Mengintip sejarah, emoji pertama kali dibuat pada akhir 1990-an oleh Shigetaka Kurita, seorang insinyur di perusahaan telepon Jepang, NTT Docomo.

Kata “emoji” menggabungkan dua kata Jepang yaitu “e” yang berarti gambar dan “moji” yang bermakna karakter. Saat ini, lebih dari lima miliar emoji dikirim setiap hari di Facebook, dengan yang paling populer adalah wajah menangis dengan air mata kebahagiaan.

Penelitian dengan judul The 7% rule: fact, fiction, or misunderstanding mengungkapkan bahwa dalam komunikasi kerja, emoji dapat digunakan sebagai pengganti bahasa tubuh yang hilang. Di mana menurut penelitian bahasa tubuh bertanggung jawab atas 55 persen isyarat non-verbal, sementara 38 persen lainnya berasal dari nada dan nada suara seseorang.

Mengutip dari Digital Trends, Dr. Moitree Banerjee, kepala program psikologi dan dosen senior di University of Chichester, menjelaskan bahwa komunikasi melalui email atau teks lebih fokus pada isi tulisan, bukan pada suara dan ekspresi wajah. Tentunya kita tidak bisa merasakan bagaimana perasaan atau ekspresi pengirim teks.

Uniknya, memasukkan emoji atau gambar saat mengirimkan teks dapat membantu orang yang membaca email Anda untuk memecahkan kode nadanya sebagai isyarat proxy dari sikap komunikator.

Emoji memungkinkan penerima untuk benar memahami tingkat dan arah emosi, sikap, dan ekspresi. Selain menyampaikan sikap, emoji juga dapat memberikan kepastian yang mungkin dibutuhkan penerima.

Lalu bagaimana jika berada dalam komunikasi kerja? Apakah kita harus mengirim wajah cemberut atau piktogram jempol ke atasan Anda?

Banerjee merekomendasikan untuk menggunakan emoji sederhana yang dapat dengan mudah ditafsirkan dan mendorong menemukan cara untuk menggambarkan perhatian anda pada atasan.

Emoji hadir agar pengirim dan penerima menyadari kesenjangan dalam komunikasi yang disebabkan oleh mode komunikasi teks ini.

Meski peneliti menyadari bahwa terkadang tidak lazim untuk menggunakan emoji dalam pengaturan kerja formal. Namun situasi pandemi di mana kita selalu berkomunikasi jarak jauh, membuat emoji dibutuhkan untuk isyarat dalam komunikasi yang hilang.