ZONAUTARA.com – Presiden Joko Widodo mengabaikan tradisi di Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rotasi jabatan Panglima TNI. Sebagaimana tradisi di TNI dan juga termaktub dalam Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang TNI, panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap angkatan.

Perwira tinggi aktif itu mesti pernah atau sedang menjabat kepala staf. Selama ini rotasi panglima dilakukan antar-matra. Tapi kali ini Jokowi menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa untuk diusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai calon tunggal Panglima TNI.

Jenderal Andika ditunjuk Jokowi untuk menggantikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan pensiun pekan depan. Keputusan Jokowi itu diumumkan Menteri Sekretaris Negara Pratikno pada Rabu (3/11/2021). Jokowi meneken surat penunjukkan terhadap Andika tersebut sebelum terbang ke Roma menghadiri KTT G20 pada pekan lalu.

Mulai hari ini, Kamis (4/11), DPR akan menggelar uji kepatutan dan kelayakan terhadap Andika Perkasa. Menurut Ketua DPR Puan Maharani, uji kepatutan dan kelayakan itu dikebut meski DPR tengah reses. Tujuannya agar pada rapat paripurna DPR pada 8 November mendatang, DPR sudah bisa menyetujui panglima baru.

Orang dekat

Selama ini banyak kalangan menjagokan Kepala Staf Angkatan Laut Yudo Margono yang akan menggantikan Hadi Tjahjanto dari angkatan udara. Sebelum Hadi, panglima TNI dijabat Jenderal Gatot Nurmayanto dari angkatan darat. Semestinya penerus Hadi dari matra angkatan laut. Tetapi Jokowi memilih Andika.

“Pak Presiden sudah memilih Angkatan Darat,” kata Pratikno di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dikutip dari Koran Tempo.

Koran Tempo dalam laporannya menulis bahwa baik Andika maupun Yudo sudah terlihat melakukan berbagai manuver dalam beberapa bulan terakhir. Andika misalnya, tim komunikasi Angkatan Darat sangat rajin menyebar informasi ihwal kegiatan Andika.

A. M. Hendropriyotno yang merupakan mertua Andika setidaknya terlihat dua kali menemui Jokowi, yakni pada Mei dan Juni lalu. Meski Hendropriyotno membantah pertemuan dengan Jokowi itu membahas soal jabatan panglima.

Yudo Margono juga terlihat berupaya menarik perhatian publik dengan melakukan sowan ke sejumlah seniornya di Angkatan Laut. Salah satu yang ditemui Yudo adalah Bernard Kent Sondakh pada akhir Mei lalu. Sondakh pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Laut pada 2002-2005.

Pilihan Jokowi pada Andika diduga karena kedekatan. Andika yang kini berusia 56 tahun, merupakan lulusan Akademi Militer pada 1987. Andika menghabiskan sebagian besar karirnya di Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat. Dia kemudian dipercaya sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden saat Jokowi menjadi Presiden pada 2014.

Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andi Widjajanto mengakui bahwa terpilihnya Andika sebagai calon tunggal yang diusulkan ke DPR sebagai panglima TNI, karena unsur kedekatan dengan Presiden. Andi termasuk orang yang dimintai pendapat oleh Istana dalam pengusulan ini.