Oleh: Anggi M. Lubis, The Conversation

Masyarakat tengah hangat membicarakan kemungkinan terjadinya resesi global – perlambatan ekonomi berkepanjangan di seluruh dunia – pada 2023.

Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan perekonomian dunia akan gelap tahun depan. IMF merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global 2023 menjadi 2.7% – atau 0.2 basis poin lebih rendah dari prediksi yang dikeluarkan sebelumnya. Angka ini merupakan perlambatan dibandingkan dengan prediksi tahun ini yang sebesar 3.2% atau turun dibandingkan 6% tahun lalu.

IMF mengeluarkan sejumlah himbauan yang cukup mencemaskan. Lembaga tersebut mengingatkan bahwa di tengah carut marut perekonomian global, situasi terburuk “belum muncul”, inflasi akan makin melambung, dan bahwa 2023 akan membuat sebagian orang “merasakan resesi” dalam kondisi perekonomian yang “menyakitkan”.

Sejumlah praktisi dan ahli ekonomi, termasuk Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, sebetulnya meramalkan bahwa Indonesia relatif aman dari resesi.

Namun, sejumlah pakar yang diwawancarai The Conversation Indonesia sepakat bahwa tak ada satu negara pun, termasuk Indonesia, yang akan lolos dari perlambatan ekonomi. Masyarakat pun akan terpapar dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja dampak yang perlu diwaspadai oleh masyarakat? Bagaimana cara menghadapinya?

Berikut kompilasi pendapat dari sejumlah pakar.

1. Biaya hidup makin tinggi

Fajar B. Hirawan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa tekanan inflasi yang menyerang hampir semua negara di dunia, khususnya Indonesia, pastinya berdampak pada peningkatan harga-harga kebutuhan pokok.

“Kondisi ini juga sebenarnya dipicu oleh momentum pemulihan ekonomi (pascapandemi) yang akhirnya mendorong sisi permintaan yang sangat signifikan peningkatannya, namun tidak disertai sisi suplai yang mencukupi, yang salah satunya diakibatkan oleh gangguan pada rantai pasok global,” terang Fajar.

Dalam laporan proyeksi ekonomi dunia yang diterbitkan bulan ini, IMF memprediksi sepertiga negara-negara di dunia akan mengalami pertumbuhan ekonomi negatif tahun depan. Sebab, tiga kekuatan ekonomi terbesar dunia – Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (EU), dan China – mengalami perlambatan ekonomi.

IMF menyebut tiga faktor yang melandasi hal ini, yakni Perang Rusia-Ukraina yang menimbulkan kenaikan harga energi dan pangan, krisis biaya hidup sebagai imbas dari konflik tersebut dan juga pandemi, serta kebijakan lockdown China yang mengganggu alur perdagangan internasional.

Dengan krisis energi dan terganggunya logistik, Krisna Gupta dari Center of Indonesian Policies Studies (CIPS) dan Muhamad Iksan dari Universitas Paramadina mewanti-wanti bahwa harga barang-barang sehari-hari yang biasa dibeli konsumen akan naik. Sebagian di antaranya bahkan mulai dirasakan masyarakat.

Masyarakat Indonesia tengah berjibaku dengan kenaikan harga pangan sejak awal tahun dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berlaku awal September. Ini mendorong inflasi tahunan Indonesia hingga hampir menyentuh 6% bulan lalu.

2. Kenaikan pendapatan tak sebanding kenaikan pengeluaran

Bhima Yudhistira Adhinegara dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkapkan kekhawatiran bahwa tingkat pendapatan masyarakat akan sulit untuk mengimbangi kenaikan harga yang terjadi. Alih-alih menaikkan upah untuk meringankan beban kenaikan biaya hidup, bisnis justru akan ikut mengerem pengeluaran dan sangat mungkin melakukan efisensi, terutama dari sisi kebijakan personalia.

“Bisa kayak jam kerja dikurangi, gaji dipotong, ujungnya bisa ke PHK (pemutusan hubungan kerja),” ungkap Bhima.

3. Sulitnya mencari pekerjaan

Dengan terimbasnya bisnis dan potensi PHK, Bhima berpendapat bahwa kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin berat.

Sementara, Krisna menambahkan bahwa kontraksi bisnis akibat kekurangan investasi sudah dirasakan di sektor teknologi utamanya karena langkanya pendanaan eksternal. Misalnya, sejumlah e-commerce dan perusahaan berbasis digital di Indonesia seperti Shopee, JD.ID, LinkAja, TaniHub, dan Zenius baru-baru ini ramai memangkas karyawannya.

“Kontraksi produksi mungkin juga terjadi, yang mungkin akan terdampak ke utamanya pekerja lepas,” tambahnya.

4. Suku bunga meningkat

Ini perlu menjadi catatan bagi masyarakat yang tengah mencicil rumah dengan bunga mengambang, atau berencana untuk membeli barang konsumsi dengan metode cicilan.

Menaikkan suku bunga acuan merupakan langkah yang kerap ditempuh oleh bank sentral di negara-negara demi mengatur tingkat inflasi. Dengan suku bunga yang tinggi, orang akan cenderung menahan konsumsi sehingga akan laju kenaikan harga bisa diredam.

“Jadi suku bunga acuan secara global meningkat, terutama di negara maju, memicu penyesuaian suku bunga di Indonesia. Nanti ujungnya adalah bunga pinjaman atau kredit menyesuaikan dengan suku bunga acuan yang naik,” terang Bhima.

Jaga konsumsi!

Para pakar menekankan bahwa konsumsi dalam negeri tetap menjadi sentral dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia, di tengah ketidakpastian perdagangan dan kondisi ekonomi internasional. Syaratnya, masyarakat juga perlu mengendalikan keranjang belanjaannya dalam mengantisipasi sejumlah dampak resesi global yang dipaparkan di atas.

“Masyarakat harus lebih bijak lagi dalam berkonsumsi. Sektor konsumsi rumah tangga sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tidak perlu kita pertanyakan lagi. Namun di masa-masa harga yang merangkak naik, masyarakat perlu lebih precautious (waspada dan antisipatif) dan membuat prioritas kebutuhan yang perlu dipenuhi,” saran Fajar.

Senada, Bhima menekankan untuk lebih mengendalikan pembelian barang-barang yang bersifat sekunder dan tersier. Ia dan Krisna juga menyarankan masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum mengambil pinjaman, terutama terhadap barang-barang yang sifatnya konsumtif.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk melakukan langkah antisipatif dengan mencari pendapatan sampingan.

“Jangan sekadar mengandalkan pendapatan dari sumber utama,” tegas Bhima.

Ia juga menyarankan untuk menyisihkan dana darurat minimum 10% dari pendapatan di rekening yang terpisah agar tidak diutak-atik untuk kebutuhan yang mendesak.

Iksan juga memberi penekanan pada pentingnya mempersiapkan tabungan atau kas untuk pengeluaran mendadak yang lebih tinggi dari biaya hidup yang biasa dikeluarkan.

Namun, Iksan juga menyarankan agar masyarakat tidak panik, tetap menikmati hidup, dan tak melupakan pentingnya healing.

“Rumusan saya tentang krisis, dia datang tetiba dan biasanya juga pergi dengan cepat,” katanya.The Conversation

Anggi M. Lubis, Editor Bisnis + Ekonomi, The Conversation

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id