Dua spesies siput laut baru ditemukan di perairan Sulawesi Utara

Penulis: Eliana Gloria
Editor: Neno Karlina Paputungan
FOTO : Wagele Et. Al (2025/ Zookeys/ CC BY 4.0

ZONAUTARA.com – Lima ilmuwan wanita dari Jerman, Indonesia, dan Wales telah mengidentifikasi dua spesies siput laut berbintil baru di perairan Sulawesi Utara, Indonesia. Spesies-spesies ini diberi nama Phyllidia ovata dan Phyllidia fontjei.

Siput laut berbintil dari keluarga Phyllidiidae adalah makhluk umum di wilayah Indo-Pasifik. Mereka dikenal karena memakan spons dan mengambil racun dari mangsanya untuk pertahanan diri. Baik bagi peneliti maupun penggemar alam, siput ini terkenal akan warna mencolok sebagai peringatan dan mekanisme pertahanan kimiawi yang mereka miliki.

Di Sulawesi Utara saja, sekitar 350 spesies siput laut telah tercatat, dengan sekitar 100 di antaranya belum teridentifikasi secara resmi. Kini, dua spesies berwarna cerah yang lebih jarang dari kerabatnya berhasil dinamai dan dideskripsikan.

Phyllidia ovata: Dari foto bawah air ke nama resmi

Phyllidia ovata dinamai karena bentuk dan coraknya yang menyerupai telur. Selama 23 tahun terakhir, spesies ini sering difoto oleh para fotografer bawah air di berbagai lokasi seperti Indonesia, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Australia.

Namun, baru sekarang spesies ini diakui sebagai penemuan ilmiah baru. Siput laut berbintil berukuran sedang ini, dengan panjang hingga 5 cm, akhirnya memiliki nama resmi berdasarkan spesimen yang dikumpulkan oleh seorang penyelam di Sulawesi Utara.




Phyllidia fontjei : Nama penghormatan untuk peneliti Indonesia

Phyllidia fontjei adalah bentuk penghormatan bagi mendiang Dr. Fontje Kaligis, seorang peneliti Indonesia yang berperan besar dalam membuka peluang kerja sama internasional. Kerja sama ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati Sulawesi Utara yang sering kali tersembunyi.

Spesies siput laut berbintil kecil ini, dengan ukuran maksimal 16 mm, sulit ditemukan. Meskipun demikian, Phyllidia fontjei telah difoto dalam 15 tahun terakhir di Indonesia dan Malaysia, namun lebih sering dijumpai di Laut Andaman, Samudra Hindia.

Deskripsi spesies ini didasarkan pada satu spesimen referensi, yang dikenal sebagai holotipe. Holotipe tersebut telah diperiksa secara histologis, memungkinkan analisis anatomi yang sangat mendetail.

Kontribusi sains warga yang tak ternilai

Penemuan ini sebagian besar berkat individu-individu yang, meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmiah formal, sangat bersemangat dalam mendokumentasikan dan melindungi keanekaragaman hayati Bumi.

Foto dan data yang dibagikan melalui platform sains warga seperti iNaturalist, media sosial seperti Facebook, dan komunitas khusus siput laut seperti NudiPixel dan Sea Slug Forum (yang sekarang sudah tidak aktif), memberikan informasi krusial bagi para peneliti.

Informasi ini sangat membantu dalam mengidentifikasi nudibranch ini sebagai spesies baru dan menentukan distribusi geografisnya yang lebih akurat, terutama saat spesimen yang tersedia untuk penelitian terbatas.

Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal akses terbuka ZooKeys.

Follow:
Daydreamer, typically ENTJ, compassionate listeners, long-life learner.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com