ZONAUTARA.com – Sri Lanka kini menghadapi tantangan besar di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta dampak bencana Siklon Ditwah. Siklon yang melanda pada November tahun lalu menyebabkan 643 orang tewas dan 173 orang hilang, menimbulkan kerusakan parah di banyak wilayah termasuk Distrik Kandy, dan melumpuhkan sebagian besar infrastruktur di negara itu.
Indrani Ravichandran, salah satu korban siklon, terpaksa tinggal di bagian rumah yang masih tersisa setelah banjir menghancurkan desanya. Ia dan keluarganya harus melarikan diri dalam kondisi gelap dan hujan deras saat rumah mereka diterjang air bah. “Air naik dengan sangat cepat sehingga kami hampir tidak sempat menyelamatkan barang apa pun,” katanya.
Dalam situasi ini, tekanan dari konflik geopolitik menambah penderitaan Sri Lanka. Krisis energi global akibat perang AS-Israel dengan Iran memicu kenaikan harga energi dan pembatasan bahan bakar di Sri Lanka. Pemerintah telah menerapkan penjatahan bahan bakar, kenaikan harga listrik hingga 40%, dan pekan kerja empat hari.
Tekanan ini mengingatkan pada krisis ekonomi 2022 yang memaksa negara tersebut mengalami gagal bayar utang luar negeri dan kehabisan devisa. Padahal sebelumnya, pemerintah telah berusaha memulihkan ekonomi dengan berbagai langkah seperti mencabut subsidi listrik dan menaikkan pajak penghasilan hingga 36%.
Kerugian total dari siklon ini diperkirakan mencapai US$4 miliar atau sekitar 4% dari PDB Sri Lanka menurut United Nations. Pemerintah kini berusaha menyalurkan bantuan rumah bagi yang terdampak dan memulihkan layanan dasar, meskipun ekonomi masih terpuruk. Presiden Anura Kumara Dissanayake menyebut bencana ini sebagai yang terburuk dalam sejarah negara.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

