Oleh: Ir. R. S. Mamengko MM, MP *
Persoalan utama petani bukan sekadar rendahnya produksi, tetapi ketimpangan kapasitas yang terjadi di tingkat paling dasar. Hal ini dapat dilihat pada Kelompok Tani Kakao Tunas Baru di Desa Matali Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow.
Data produksi kelompok menunjukkan variasi yang sangat signifikan antarpetani. Produktivitas per pohon berkisar antara 0,037 hingga 0,141 kilogram per pohon per bulan. Dengan kata lain, terdapat kesenjangan produktivitas hingga lebih dari tiga kali lipat antar anggota kelompok.
Menariknya, jumlah pohon produksi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil panen. Beberapa petani dengan jumlah pohon lebih banyak justru memiliki produktivitas yang lebih rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada skala usaha, melainkan pada kualitas pengelolaan dan akses terhadap sumber daya.
Ketimpangan ini menjadi indikator kuat adanya kemiskinan struktural dalam pertanian kakao. Petani dengan keterbatasan modal tidak mampu melakukan pemeliharaan kebun secara optimal. Pemupukan tidak rutin, pengendalian hama tidak maksimal, dan perawatan tanaman menjadi tidak konsisten.
Selain itu, akses terhadap informasi dan teknologi juga tidak merata. Sebagian petani mampu mengadopsi praktik budidaya yang lebih baik, sementara yang lain masih menggunakan cara konvensional dengan produktivitas rendah. Kesenjangan ini menciptakan stratifikasi tidak resmi di dalam kelompok tani.
Situasi ini semakin diperburuk oleh tekanan perubahan iklim. Pola hujan yang tidak menentu mengganggu siklus produksi kakao, sementara peningkatan serangan hama dan penyakit seperti VSD dan Phytophthora menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Bagi petani dengan kapasitas produksi rendah, perubahan iklim bukan sekadar gangguan, tetapi ancaman serius terhadap keberlangsungan usaha tani. Tanpa cadangan modal, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan kebun atau investasi tambahan.
Akibatnya, kerentanan petani kakao di Matali Baru bersifat berlapis. Pertama, kerentanan produksi akibat rendahnya produktivitas. Kedua, kerentanan ekonomi karena pendapatan yang terbatas. Ketiga, kerentanan adaptif karena keterbatasan dalam merespons perubahan.
Dalam kondisi seperti ini, intervensi teknis saja tidak cukup. Pelatihan budidaya tanpa diikuti akses terhadap modal dan teknologi hanya akan memperlebar kesenjangan antarpetani. Petani yang sudah kuat akan semakin maju, sementara yang lemah semakin tertinggal.
Pendekatan yang lebih efektif adalah penguatan kapasitas secara kolektif. Kelompok tani harus difungsikan sebagai ruang belajar bersama, di mana pengetahuan dan pengalaman dibagikan secara partisipatif. Selain itu, diperlukan dukungan akses terhadap pembiayaan dan sarana produksi bagi petani dengan basis produksi rendah.
Adaptasi terhadap perubahan iklim juga harus menjadi prioritas. Penyesuaian praktik budidaya, peningkatan kewaspadaan terhadap serangan hama, serta diversifikasi sumber pendapatan menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketahanan petani.
Kasus Kelompok Tani Tunas Baru menunjukkan bahwa persoalan petani kakao tidak bisa dilihat secara parsial. Di balik angka produksi, terdapat struktur ketimpangan yang menentukan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang semakin terpinggirkan.
Jika pembangunan pedesaan ingin benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani, maka fokusnya tidak cukup pada peningkatan produksi. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap petani memiliki akses yang setara terhadap sumber daya dan kesempatan untuk berkembang.
Ir. R. S. Mamengko MM, MP adalah Praktisi Pertanian & Mahasiswa Magister Penyuluhan Pertanian – UNSOED

