ZONAUTARA.com – Langkah pemerintah Indonesia dalam mendistribusikan Interactive Flat Panel (IFP) untuk digitalisasi pembelajaran di sekolah-sekolah merupakan strategi penting. Distribusi ini ditargetkan mencapai 288.865 unit pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 886.595 unit di tahun 2026, menjadikan total lebih dari 1,17 juta unit.
Pemerintah, melalui Kemendikdasmen, melihat IFP sebagai reposisi penting dalam cara mengajar dan belajar di Indonesia, tidak sekadar proyek pengadaan barang. Ini sejalan dengan tantangan pendidikan yang semakin dinamis di era teknologi seperti kecerdasan buatan dan otomasi industri.
Langkah ini bertujuan memotong kesenjangan instruksional antarwilayah, sehingga siswa di daerah terpencil dapat mengakses materi yang sama dengan sekolah unggulan. IFP memberi kesempatan untuk visualisasi yang lebih konkret dalam pembelajaran, berbeda dari metode simbol verbal atau visual statis yang cenderung abstrak.
Dalam konteks ini, teknologi berfungsi sebagai instrumen pemerataan. Melalui IFP, pembelajaran dapat beralih dari sekadar penyampaian informasi menjadi pengalaman pengetahuan langsung yang memungkinkan eksplorasi lebih dalam.
“Ini adalah pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang membuat peserta didik tidak hanya mengetahui, tetapi aktif memahami dan mengaplikasi,” ungkap Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menjelaskan pentingnya integrasi teknologi seperti IFP dalam pendidikan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

