ZONAUTARA.com – Inflasi di Filipina pada April 2026 diperkirakan mencapai 5,6% akibat kenaikan biaya bahan bakar dan listrik. Konsensus analis telah memperkirakan angka ini, yang naik dari 4,1% pada Maret, dan masih dalam kisaran proyeksi Bank Sentral Filipina sebesar 5,6% hingga 6,4%.
Data resmi inflasi untuk April dijadwalkan dirilis oleh Otoritas Statistik Filipina pada 5 Mei. Jika proyeksi ini terwujud, inflasi akan melampaui target 2,0% hingga 4,0% untuk bulan kedua berturut-turut dan menjadi yang tertinggi sejak September 2023.
Ekonom Moody’s Analytics, Sarah Tan, menyatakan bahwa kenaikan harga komoditas global berkontribusi pada inflasi, khususnya di sektor transportasi dan makanan. Kenaikan tarif listrik dan pelemahan peso Filipina juga meningkatkan tekanan inflasi dari sektor impor.
Berbagai lembaga memperkirakan inflasi berada di kisaran 5,5% hingga 6,0%. Security Bank dan ANZ Research menekankan pada kenaikan harga beras, bahan bakar, serta biaya pupuk dan pangan. Sementara itu, Metrobank mengungkapkan bahwa krisis minyak global turut menekan harga domestik.
HSBC dan Chinabank memperingatkan bahwa inflasi bisa mencapai 6,2% dan bertahan tinggi hingga akhir tahun, dengan risiko berasal dari lonjakan harga energi, ketegangan di Timur Tengah yang memicu kenaikan minyak global, serta potensi El Niño yang berdampak pada produksi pangan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

