ZONAUTARA.com – Sebuah klaim yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan sindrom kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) terutama di kalangan dewasa muda dan atlet. Klaim ini disebarkan oleh akun Facebook bernama “Walman Tobing” melalui grup Cerdik & Tulus pada Senin (30/03/2026). Unggahan tersebut memuat cuplikan video pernyataan Nicolas Hulscher, MPH, yang mengulas dampak vaksin COVID-19.
Video yang dibagikan menampilkan video atlet terjatuh di lapangan dengan narasi bahwa vaksin mRNA bersifat kardioksik dan dapat menyebabkan kerusakan jantung permanen. Nicolas Hulscher, seorang epidemiolog di McCullough Foundation, dalam video tersebut, mengklaim penelitian menunjukkan dampak merusak vaksin pada jantung melalui pembentukan jaringan parut mikro.
Sampai artikel ini diterbitkan pada Selasa (05/05/2026), unggahan tersebut mendapatkan 1,4 ribu likes, 179 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 927 kali. Meski demikian, otoritas kesehatan dunia, termasuk CDC, menegaskan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar dibandingkan risikonya, meski komplikasi langka seperti miokarditis memang diakui.
Penelitian oleh CDC yang berjudul “Assessment of Risk for Sudden Cardiac Death Among Adolescents and Young Adults After Receipt of COVID-19 Vaccine – Oregon, June 2021-December 2022” menyatakan bahwa tidak ditemukan sertifikat kematian yang menyebutkan vaksinasi sebagai penyebab kematian jantung mendadak. Temuan ini menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara vaksin COVID-19 dan kematian mendadak pada individu muda yang sebelumnya sehat.
Meskipun demikian, vaksinasi COVID-19 masih direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah infeksi COVID-19 dan komplikasi serius lainnya, termasuk kematian. CIDRAP University of Minnesota juga menyatakan bahwa studi yang dilakukan menunjukkan tidak adanya hubungan antara vaksin COVID-19 dengan risiko kematian mendadak.
Diolah dari laporan Tirto.id.

