ZONAUTARA.com – Para ilmuwan telah menemukan asal usul baru yang mengejutkan dari lubang hitam paling masif di alam semesta. Penelitian menunjukkan bahwa fenomena kosmik ini kemungkinan besar terbentuk di lingkungan bintang yang paling padat, dikenal sebagai gugus bola, melalui rangkaian tabrakan yang kacau.
Temuan ini diperoleh setelah tim peneliti mempelajari riak dalam ruang-waktu yang dikenal sebagai gelombang gravitasi. Fenomena ini dideteksi oleh instrumen super sensitif seperti LIGO, KAGRA, dan Virgo. Gelombang gravitasi pertama kali diprediksi oleh Albert Einstein pada tahun 1915 sebagai bagian dari teori relativitas umum, yang dilepaskan saat penggabungan dua lubang hitam terjadi.
Tim peneliti menganalisis 153 deteksi penggabungan lubang hitam dalam Katalog Transit Gelombang Gravitasi (GWTC4). Tujuannya menyelidiki apakah lubang hitam terberat terbentuk dari penggabungan berulang kali, alih-alih langsung dari runtuhnya bintang masif tunggal. Fabio Antonini dari Universitas Cardiff, Inggris, menyatakan, “Astronomi gelombang gravitasi kini melakukan lebih dari sekadar menghitung penggabungan lubang hitam. Ini mulai mengungkapkan bagaimana lubang hitam tumbuh, di mana mereka tumbuh, dan apa yang dikatakannya kepada kita tentang hidup dan mati bintang-bintang masif.”
Penelitian ini juga mengungkap adanya dua populasi lubang hitam yang berbeda. Populasi pertama adalah lubang hitam bermassa rendah yang lahir ketika bintang masif mati dalam ledakan supernova. Namun, populasi kedua memiliki karakteristik yang sangat berbeda: mereka berputar lebih cepat dengan arah yang acak. Isobel Romero-Shaw, anggota tim peneliti, mencatat, “Apa yang paling mengejutkan kami adalah betapa jelasnya lubang hitam bermassa tinggi menonjol sebagai populasi yang terpisah.”
Studi ini memperkuat teori tentang “celah massa” yang menyatakan bahwa bintang sangat besar tidak runtuh menjadi lubang hitam saat mati dengan cara yang normal, tetapi melalui interaksi kompleks di gugus bintang padat. Hasil ini diterbitkan di jurnal Nature Astronomy pada Kamis, 7 Mei, dan menyebutkan bahwa lubang hitam dengan massa di atas 45 kali massa matahari kemungkinan dibentuk oleh interaksi beruntun di lingkungan padat. Fabio Antonini menyimpulkan, “Pertanyaan kuncinya sekarang adalah, apakah lubang hitam ini memberi tahu kita bahwa model evolusi bintang kita salah, atau apakah mereka dibuat dengan cara lain?”
Diolah dari laporan Media Indonesia.

