ZONAUTARA.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa masyarakat Indonesia kini memiliki daya beli yang semakin baik. Hal tersebut terlihat dari tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cepat, mendorong laju ekonomi pada kuartal pertama tahun 2026. Pada periode ini, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61% year-on-year (yoy), tertinggi sejak kuartal ketiga tahun 2022, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% dan berkontribusi sebesar 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang pesat pada tiga bulan pertama tahun ini tidak hanya disebabkan oleh faktor musiman seperti Ramadan atau Lebaran. “Anda lihat pertumbuhan konsumsi rumah tangganya berapa? 5,52% kan? Tertinggi sepanjang yang saya lihat, yang saya ingat. Artinya daya beli masyarakat juga membaik,” kata Purbaya di kantornya, Selasa (12/5/2026). Ia menambahkan bahwa jika masyarakat tidak memiliki dana untuk berbelanja, maka faktor musiman tidak akan mampu menjadi pendorong sebagaimana terjadi pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Purbaya, terdapat beberapa faktor yang mendorong membaiknya kondisi keuangan masyarakat. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah dalam menjaga likuiditas perekonomian atau uang primer (M0). Hal ini terealisasi melalui penempatan dana pemerintah yang selama ini menganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke Himpunan Bank Milik Negara sejak September 2025 dengan nilai total sekitar Rp 300 triliun.
Purbaya juga menyebutkan bahwa kebijakan fiskal lainnya adalah percepatan belanja negara yang tidak lagi terfokus di akhir tahun. Hingga Maret 2026, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp 815 triliun, atau 21,2% dari pagu belanja pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 senilai Rp 3.842,7 triliun. Realisasi ini tumbuh 31,4% secara tahunan. “Saya jaga likuiditas, supaya private sektor bisa bergerak. Saya dorong belanja pemerintah di triwulan pertama dipercepat, sehingga daya dorong ke ekonomi lebih merata sepanjang tahun,” jelasnya.
Lebih lanjut, Purbaya menambahkan bahwa pemerintah telah mempercepat pembayaran subsidi dan kompensasi kepada BUMN seperti PT Pertamina dan Pupuk Indonesia. Kebijakan tersebut diakuinya memberikan efek rambatan terhadap percepatan pembayaran kepada kontraktor yang merupakan mitra bisnis BUMN, menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian. “Yang lain juga sama, yang butuh uang saya belanjakan cepat, belanja di Aceh, itu juga ada dampaknya ke ekonomi kan. Jadi itu dampak real,” tegas Purbaya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

