ZONAUTARA.com – Indonesia berhasil mencapai tonggak baru dalam transformasi industri pupuk nasional dengan mengekspor pupuk urea ke Australia senilai sekitar Rp7 triliun, ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pada saat yang sama, pemerintah mampu menurunkan harga pupuk bersubsidi domestik sebesar 20% serta meningkatkan volume untuk petani lokal.
Ekspor perdana yang dilepas pada Rabu (13/5) terdiri dari 47.250 ton pupuk urea dengan nilai sekitar Rp600 miliar. Ini merupakan langkah awal dari kerjasama yang direncanakan mencapai 250.000 ton dan akan meningkat menjadi 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp7 triliun. “Rencana kita akan ekspor 250.000 ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500.000 ton,” ujar Amran.
Bersamaan dengan itu, Presiden Prabowo Subianto menciptakan kemajuan di sektor pupuk dalam negeri melalui kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20% tanpa membebani APBN. Volume pupuk bersubsidi juga ditambah sebanyak 700 ribu ton, memperluas akses bagi petani.
Amran menyatakan bahwa kesuksesan ini menandakan daya saing industri pupuk nasional semakin kuat sambil membuka peluang pasar baru di berbagai negara lain seperti India, Filipina, Brazil, dan Bangladesh. “Dubes India sudah menghubungi saya langsung meminta 500.000 ton,” ungkap Amran.
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menyampaikan apresiasinya atas kerjasama yang kuat antara kedua negara. Kamath berkata, “Australia juga bangga dapat mendukung ketahanan pangan dan nilai tambah di Indonesia. Pupuk ini akan membantu petani Australia memproduksi komoditas seperti gandum.”
Pencapaian ini, menurut Amran, sangat didukung oleh kebijakan strategis Presiden Prabowo yang mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi dari 4,55 juta ton menjadi 9,55 juta ton untuk memacu swasembada pangan nasional.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

