ZONAUTARA.com – Harga gandum di pasar global mengalami kenaikan akibat dampak dari gejolak perang yang terjadi di Timur Tengah. Kenaikan ini dikhawatirkan akan mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia yang masih bergantung pada impor gandum. Selain gangguan di sektor energi, perang ini juga mengganggu rantai pasok pangan dunia.
Indeks Harga Pangan dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) menunjukkan adanya tren peningkatan, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada April 2026, terutama pada komoditas minyak nabati. Menurut Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, salah satu faktor pendorong kenaikan adalah hambatan logistik di Selat Hormuz, di mana pasokan gandum terhambat.
Penekanan pada pengembangan biofuel turut berkontribusi terhadap naiknya harga minyak nabati. Harga serealia, termasuk gandum, juga meningkat akibat hambatan panen di Amerika Serikat. Sementara itu, harga daging turut terdampak bencana kekeringan.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia mengingat ketergantungan negara pada impor gandum. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis dalam menyesuaikan kebijakan pangan di tanah air agar dampak inflasi dapat diminimalisir.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai dampak kenaikan harga pangan global terhadap Indonesia, tonton analisis lengkapnya dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia dengan Andi Shalini melibatkan Emanuella Bungasmara Ega Tirta.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

