Redaksi Zonautara.com menerima kiriman tulisan berikut dari seorang penulis tamu yang memilih untuk tidak menyebutkan namanya. Ini adalah catatan perjalanan pribadi yang ditulis langsung dari Phnom Penh, Kamboja. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Minggu, 3 Mei 2026, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja. KBRI yang beralamat di No. 33, Street 268, Preah Suramarit Boulevard, Phnom Penh itu memiliki pemandangan yang bisa dibilang indah di mata, tapi tidak di hati.
Tepat di depan gedung KBRI berdiri sebuah monumen yang hampir tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan: Statue of His Majesty, atau lebih dikenal sebagai Patung Raja Norodom Sihanouk. Patung setinggi sekitar 4,5 meter berbahan perunggu dengan kubah emas itu berdiri di tengah taman, menghadap langsung ke arah Monumen Kemerdekaan Kamboja. Bagi siapa pun yang berkunjung ke negeri beridentitas Angkor Wat ini, berfoto dengan latar patung sang raja adalah semacam kewajiban yang tak tertulis.
Selama menunggu keperluan di KBRI, saya kerap duduk berlama-lama di seputaran taman itu. Dari sana, setiap hari saya menyaksikan wisatawan dari berbagai penjuru dunia berdatangan untuk mengabadikan momen. Ramai, hidup, dan penuh warna.
Namun di balik keramaian itu, ada pemandangan lain yang tidak kalah mencolok.
Di sudut-sudut taman yang sama, banyak orang yang menjadikan area tersebut sebagai tempat tinggal sementara , tidur beralas kardus, makan di trotoar, berlindung dari udara malam dengan selembar kain lusuh. Tak jarang saya menyaksikan mereka berlarian menghindari petugas yang datang membersihkan taman.
Siang hari mereka menghilang. Tapi begitu malam tiba, mereka kembali dengan membawa “perlengkapan” seadanya: kardus bekas dan beberapa helai kain, satu-satunya penghalang antara tubuh mereka dan dinginnya nasib.
Rasa penasaran akhirnya mendorong saya untuk bertanya kepada beberapa kenalan di warung makan sekitar KBRI. Jawaban yang saya dapat cukup membuat saya terdiam sejenak.
Orang-orang itu adalah Warga Negara Indonesia. Mereka sedang menunggu proses deportasi dari KBRI, dan memilih tinggal di jalanan karena tidak punya uang, atau memang sengaja berhemat demi bertahan hidup hingga giliran mereka tiba untuk dipulangkan.
Mereka adalah orang-orang yang pernah bermimpi. Mimpi yang lahir dari ketidakpuasan atas nasib di tanah sendiri, yang kemudian mendorong mereka untuk mencoba peruntungan di luar negeri, hingga akhirnya terjerat dalam apa yang mereka sendiri sebut sebagai “cengkeraman naga.”
Kini, setiap malam mereka tidur di taman yang sama tempat para wisatawan berfoto ria di siang harinya. Dengan satu harapan sederhana: semoga hari esok adalah giliran mereka untuk pulang.
Tapi harapan itu pun, seperti mimpi-mimpi yang pernah mereka bawa dari Indonesia, belum tentu pasti. Kadang ia hanya menjadi kesenangan sesaat dalam pikiran dan ilusi yang menghangat sebentar, lalu menguap begitu fajar tiba.
Itulah mengapa saya bilang: pemandangan di depan KBRI itu indah di mata, tapi tidak di hati.
Zonautara.com membuka ruang bagi siapa saja yang ingin menyampaikan gagasan, laporan, atau catatan perjalanan melalui rubrik Penulis Tamu. Identitas penulis dapat dijaga kerahasiaannya atas permintaan yang bersangkutan.

