ZONAUTARA.com – Hipertensi, yang sering dijuluki sebagai ‘silent killer’, tetap menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2021, tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 140,8 per 100.000 penduduk, sementara penyakit jantung iskemik mencapai 90,4 per 100.000 penduduk. Kedua penyakit ini memiliki satu faktor risiko utama yang sama, yaitu hipertensi.
Masalah yang kerap dihadapi adalah gejala hipertensi seringkali tidak terlihat, sehingga banyak penderita baru menyadari mereka mengidap kondisi ini setelah terjadi komplikasi seperti stroke, gagal ginjal, atau penyakit jantung. Di Indonesia, sekitar satu dari tiga orang dewasa menderita hipertensi. Sayangnya, sebagian besar belum melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin.
Di sisi lain, Komplikasi kardiovaskular seperti stroke tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga membawa beban ekonomi besar bagi keluarga. Mengatasi beban ini, Kementerian Kesehatan mendorong kampanye CERDIK yang mencakup cek kesehatan berkala, menghindari asap rokok, aktivitas fisik rutin, diet sehat, istirahat cukup, dan pengelolaan stres.
“Hipertensi sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa sangat serius, termasuk komplikasi stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, dan kepikunan. Pengukuran tekanan darah mandiri di rumah sangat dianjurkan untuk memonitor hasil pengobatan,” kata dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH).
Peringatan Hari Hipertensi Sedunia tahun ini juga dimanfaatkan oleh perusahaan alat kesehatan seperti Omron Healthcare Indonesia untuk meluncurkan tensimeter Seri EZ dan IQ, guna memfasilitasi pengukuran tekanan darah secara praktis di rumah. “Melalui seri ini, kami ingin memudahkan masyarakat memantau tekanan darah secara akurat, cepat, dan nyaman dari rumah,” ungkap Tomoaki Watanabe, Director Omron Healthcare Indonesia.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

