ZONAUTARA.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dipimpin oleh Sakti Wahyu Trenggono terus melanjutkan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) untuk meningkatkan hasil tangkapan dan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penggunaan teknologi terbaru. Salah satu inisiatif utama adalah pengenalan teknologi slurry ice untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan.
Trenggono menjelaskan bahwa perubahan signifikan dalam program tersebut adalah penggantian sistem penyimpanan ikan konvensional yang menggunakan balok es dengan teknologi slurry ice, yang diyakini mampu menjaga kualitas ikan lebih lama. “(Dengan adanya Kampung Nelayan Merah Putih) kita melakukan perubahan yang sangat fundamental, yaitu tentang kualitas perikanan kita. Nah, kalau dulu ikannya itu dari laut tapi esnya menggunakan balok es yang dihancurkan menggunakan tombak,” jelas Trenggono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI.
Menteri Kelautan dan Perikanan itu menambahkan, penggunaan balok es konvensional terbukti membuat kualitas ikan lebih cepat menurun. Sebagai gantinya, slurry ice yang terbuat dari air laut didinginkan dianggap lebih efektif, mampu menjaga kualitas ikan hingga tiga hari, hampir setara dengan kualitas ikan di negara maju. “Kita rubah bukan es balok lagi, tapi slurry ice. Bahannya dari air laut yang kita dinginkan dan dia masuk ke pori-pori ikan itu,” tambahnya.
Program Kampung Nelayan Merah Putih, yang sudah melaksanakan pembangunan di 65 titik dari total target 1.000 titik pada tahun ini, secara bertahap mengadopsi teknologi slurry ice di sebagian besar lokasinya. Dari 65 titik yang selesai dibangun, 60 lokasi telah menggunakan teknologi tersebut, sementara lima lokasi lainnya masih mempertahankan balok es karena kendala infrastruktur.
Selain memperkenalkan slurry ice, pemerintah juga mempersiapkan berbagai infrastruktur pendukung lainnya, termasuk tambatan perahu, dermaga, bengkel kapal, hingga cold storage. Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi perikanan hingga 2,82 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi Rp56 triliun, meningkatkan pendapatan nelayan hingga Rp7,7 juta per bulan, dan menyerap 50 ribu tenaga kerja.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

