ZONAUTARA.com – Indonesia memiliki sejarah panjang dalam penggunaan jamu sebagai bagian dari budaya dan praktik kesehatan tradisional. Dengan dukungan kekayaan hayati berupa 30.000 jenis tanaman potensial sebagai bahan baku obat, jamu terus berkembang menjadi produk yang relevan bagi masyarakat modern. Pengembangan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi pusat keunggulan dalam bidang medis dunia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) turut berperan dengan mendorong konsumsi jamu untuk kesehatan yang lebih baik, serta memperkuat ekosistem industri herbal dengan regulasi, pembinaan UMKM, dan kolaborasi lintas sektor. Pengawasan yang ketat terhadap produksi dan peredaran jamu dilakukan untuk menjamin keamanan konsumen.
Sampai saat ini, terdapat 71 obat herbal terstandar dan 20 fitofarmaka yang terdaftar dari lebih dari 18.000 jamu. Industri ini memegang peranan penting dengan perkiraan nilai ekonomi mencapai Rp350 triliun per tahun, menjadikannya sektor strategis yang perlu terus didorong pengembangannya.
Memperingati Hari Jamu Nasional, CNBC Indonesia mengadakan Health Forum 2026 bertema “Dari Warisan Budaya Menjadi Industri Jamu Berkelanjutan” pada Selasa, 26 Mei 2026, pukul 10.00-12.00 WIB. Forum ini bertujuan menjadi ruang diskusi antara regulator dan pelaku industri untuk memperkuat arah pengembangan jamu agar lebih kompetitif dan relevan di masa depan.
Health Forum ini dihadiri oleh tokoh seperti Kepala BPOM Taruna Ikrar, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri, Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Jony Yuwono, dan Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa Patrick Kalona. Mereka membahas kebijakan BPOM, peran kolaborasi lintas sektor, serta peluang pengembangan jamu di pasar nasional dan global.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

