ZONAUTARA.com – Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak dapat semata-mata dilihat sebagai perseteruan militer. Iran dalam puluhan tahun terakhir diketahui berhasil menunjukkan kemampuan diplomasi dan strategi yang membuat Amerika Serikat, negara adidaya, terlihat kurang unggul.
Narasi Barat cenderung menggambarkan Iran sebagai negara terbelakang dan terisolasi akibat embargo. Namun, di balik semua itu, Iran mampu mengolah situasi tersebut menjadi keuntungan dengan mengembangkan laboratorium kemandirian. “Dunia menganggap embargo ekonomi adalah hukuman mati, tapi bagi Iran, ini adalah laboratorium kemandirian,” ujar sebuah analisis.
Sebaliknya, Barat sering salah memahami bahwa Iran bukan sekadar sebuah negara, melainkan sebuah mentalitas kekaisaran yang telah ada jauh sebelum kemunculan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya, perebutan utama adalah kontrol atas energi dan jalur logistik dunia, bukan sekadar isu nuklir yang sering dipermukaan.
Kemenangan intelektual Iran juga didorong oleh pendidikan berkualitas tinggi yang digratiskan dari tingkat TK hingga universitas, seperti yang ditegaskan oleh Nasir Tamara. “Jangan tertipu dengan jubah ulama; di baliknya adalah teknokrat jenius,” tambahnya.
Melalui pemahaman dan strategi yang mendalam, Iran bergerak dengan strategi militer asimetris dan desentralisasi kekuatan. Strategi ini membuat mereka bertahan kuat meski di bawah ancaman sanksi dan serangan. “AS mungkin punya jam tangan mewah, tapi Iran punya waktu,” seringkali menjadi pernyataan yang menggambarkan siapnya Iran untuk menghadapi konflik berkepanjangan.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

