ZONAUTARA.com – Di tengah hamparan sawah di Desa Adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, wisatawan dapat menyaksikan deretan Tongkonan, rumah adat khas Toraja yang telah berdiri lebih dari empat abad. Meskipun sedang terik, semilir angin menyapa ramah para pelancong yang datang untuk melihat kuburan batu di sekitar tebing desa tersebut.
Para pengunjung tertarik pada tebing batu yang menjadi lokasi pemakaman masyarakat Toraja. Untuk mencapainya, mereka harus melalui jalan setapak yang dikelilingi kios oleh-oleh khas Toraja. Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo, menjelaskan bahwa bangunan di tebing ini berisi peti jenazah dan dirancang untuk menghemat area. “Beda dengan kita yang di kota, satu lubang satu jenazah,” kata Layuk.
Tradisi pemakaman di tebing batu telah dilakukan bahkan sebelum ajaran Islam masuk ke Toraja. Jenis pemakaman ini dipilih untuk menghemat penggunaan lahan. Pengunjung harus menaiki tangga curam untuk mencapai lokasi kuburan, di mana susunan peti mati dari kayu dan kerangka manusia dapat dilihat dari celah peti tua yang mulai keropos.
Di puncak tebing, patung-patung rapih tertutup gerbang besi, sementara di sepanjang perjalanan, kerangka-kerangka juga tersusun di area tertentu. Marcel, pemandu wisata muda, mengingatkan pengunjung agar tidak menyentuh tengkorak. Menyentuh kerangka tanpa lewat ritual adat Ma’Nene akan dikenai sanksi adat berupa sumbangan kerbau.
Setelah Kete Kesu, perjalanan berlanjut ke Londa, lokasi pemakaman batu yang khusus untuk rumpun keluarga tertentu dari suku Toraja. Area tebing ini menawarkan pemandangan khas pemakaman batu, melanjutkan kekayaan budaya Toraja sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Diolah dari laporan Tirto.id.

