ZONAUTARA.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan rencana untuk memperluas kendali Israel di Gaza. Netanyahu menyatakan pihaknya akan menguasai 70% wilayah Gaza, naik dari 53% yang disepakati dalam perjanjian gencatan senjata pada Oktober 2025, yang mana saat ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak.
Keputusan ini mendapatkan reaksi keras dari negara-negara Eropa dan rakyat Palestina yang khawatir akan eskalasi lebih lanjut. Kelompok militan Palestina, Hamas, yang sebelumnya terlibat dalam perang dengan Israel selama dua tahun setelah serangan pada 7 Oktober 2023, menyebut rencana Netanyahu sebagai upaya pembersihan etnis dan pengusiran paksa terhadap warga Palestina.
“Setiap upaya untuk memaksakan realitas pendudukan baru di Gaza tidak sah,” kata Ismail al-Thawabta, kepala kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas, ketika dikutip dari Reuters.
Rencana perluasan ini terjadi di tengah situasi yang sudah mengkhawatirkan di Gaza, dengan lebih dari 2 juta penduduk hidup dalam kondisi yang semakin memburuk. Israel telah memperluas wilayah kendalinya hingga 64% tanpa perincian lebih lanjut, meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Negara-negara seperti Inggris dan Jerman mengungkapkan keprihatinan atas langkah Israel ini, yang dianggap dapat memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB yang sebelumnya telah mengatur kesepakatan gencatan senjata belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai langkah terbaru ini.

