ZONAUTARA.com – Situasi pedagang rumah makan Tegal atau warteg di Jakarta saat ini semakin menantang. Mereka harus menghadapi penurunan jumlah pembeli sekaligus kenaikan harga bahan makanan. Sejumlah pedagang di kawasan Senen, Jakarta Pusat, menyatakan masalah ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu.
Amirah, seorang pedagang warteg, menyampaikan kesedihannya karena warteg tidak lagi sepopuler dahulu sebagai pilihan masyarakat untuk menikmati makanan terjangkau. “Sudah beda lah pokoknya, dulu jual daging sapi, ayam, cumi-cumi, dan udang masih banyak peminatnya, sekarang sudah enggak,” ujarnya. Amirah menyatakan pendapatannya berkurang signifikan dari yang sebelumnya bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per hari menjadi sulit mencapai Rp1 juta.
Salah satu faktor yang memperburuk kondisi adalah kenaikan harga bahan pokok. Amirah mengungkapkan, “Sekarang contoh minyak goreng, saya pakai yang Sunco saja, 1 liternya bisa Rp42.000, belum cabai rawit yang sekarang bisa Rp70.000.” Hal ini membuat modal yang dia keluarkan semakin besar, sedangkan penghasilan semakin turun.
Surono, pedagang warteg lainnya, juga mengeluhkan kondisi bisnis yang menurun 35 persen. “Kalau dibilang normal, sudah enggak sih, turun, ada kali 35% turunnya,” kata Surono. Saat ini, dia jarang menjual lauk seperti daging sapi karena permintaannya menurun drastis.
Para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil tindakan, terutama dalam hal stabilisasi harga bahan makanan seperti minyak goreng dan cabai. Surono menambahkan, “Ya mau berharap bagaimana, harga-harga bahan makanan masih tinggi, minyak goreng contohnya, yang merek biasa-biasa saja sudah Rp20.000-an.” Ini semakin menambah beban operasional warteg yang mereka kelola.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

