ZONAUTARA.com – Industri pelayaran nasional Indonesia menghadapi tantangan akibat ketidakpastian geopolitik global dan tekanan nilai tukar rupiah yang meningkat. Kondisi ini berdampak pada biaya operasional perusahaan pelayaran di dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto, menyatakan bahwa setiap gejolak global membawa tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha. “Kalau dari industri pelayaran, kita selalu bilang kalau ada keruwetan politik, keruwetan apa keadaan, pasti ada opportunity di situ. Tapi tentunya selama apa fluktuasi daripada mata uang itu tidak terus naik,” ujar Carmelita kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Di tengah dinamika ini, pelaku usaha pelayaran berupaya menjaga kelangsungan operasional agar distribusi barang dan jasa tetap berjalan normal. Selain nilai tukar rupiah, harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor yang sangat menentukan keberlangsungan usaha pelayaran nasional. “Ya kita harapkan jangan naik lagi lebih dari itu. Dan tentunya yang utama buat kita kan harga minyak gitu ya. Kalau BBM kita terus naik, ya pada akhirnya operasional daripada pelayaran akan berhenti. Jadi kita harus terus melihat opportunity-nya dan berdoa yang banyak,” tambahnya.
Pelemahan rupiah memberikan tekanan tambahan terhadap pembiayaan perusahaan pelayaran karena banyak komponen bergantung pada transaksi menggunakan dolar AS, seperti pembelian suku cadang, pembayaran asuransi, hingga kewajiban kredit dari luar negeri. “Ya dampaknya terutama ya untuk pembelian sparepart, pembelian ya karena kita masih bayar-bayar dengan US Dollar. Terus juga asuransi kita juga harus bayar dengan US Dollar,” ungkap Carmelita yang juga Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA).
Industri pelayaran erat kaitannya dengan aktivitas ekonomi nasional karena berperan dalam distribusi barang antarwilayah. Perubahan biaya operasional dapat mempengaruhi rantai pasok lebih luas. “Saya rasa selama daya beli masyarakat ini masih besar, kita pelayaran kan paling murah angkutan apa sih kalau bukan angkutan laut kan gitu ya. Ya harapannya akan terus berjalan. Begitu tidak ada angkutan tentunya juga akan berhenti semua bukan hanya pelayaran tapi negara pun juga perekonomian juga akan berhenti,” tutupnya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

