ZONAUTARA.com – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mendesak diadakannya pembicaraan darurat tingkat tinggi dengan Pemerintah Malaysia menyusul kebijakan sepihak Kuala Lumpur yang melarang impor sementara lima spesies udang asal Thailand. Kebijakan ini memicu kepanikan di Bangkok karena mengancam mata pencaharian ratusan ribu peternak lokal dan rantai pasok industri makanan laut mereka.
PM Anutin memberikan instruksi tegas dalam rapat kabinet untuk menanggulangi dampak pembatasan perdagangan ini. Pemerintah Thailand memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menghantam harga komoditas di tingkat peternak dan merusak stabilitas ekonomi sektor perikanan nasional.
Mengutip kantor berita nasional Bernama, juru bicara Pemerintah Thailand Ratchada Thanadirek mengungkapkan kekhawatiran bahwa situasi ini dapat memengaruhi harga udang dan pendapatan peternak skala kecil. “Jika masalah ini dibiarkan terus berlanjut, hal itu dapat memengaruhi harga udang di tingkat peternak dan pendapatan para peternak skala kecil,” ujarnya dalam pernyataan resmi Kamis (4/6/2026).
PM Anutin menginstruksikan para menteri utamanya, termasuk Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun dan Menteri Pertanian serta Koperasi Suriya Jungrungreangkit, untuk mengambil langkah diplomasi dagang dengan otoritas Malaysia guna mencari solusi yang saling menguntungkan. Thanadirek menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen melindungi pekerja di industri tersebut.
Thailand juga telah menyiapkan skenario mitigasi domestik untuk mengatasi dampak pembatasan impor ini, termasuk menstabilkan harga di tingkat peternak dan mempercepat pencarian pasar ekspor alternatif di luar Malaysia. Boikot ini berpotensi melenyapkan pendapatan Thailand hingga lebih dari 4 miliar baht atau setara US$ 122,1 juta (Rp2,2 triliun) per tahun, mengingat volume perdagangan udang antar kedua negara yang besar.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

