ZONAUTARA.com – Menguatnya dolar AS tidak menyurutkan minat masyarakat Indonesia untuk membeli buah impor di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. Saat ini, rupiah telah menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS, tepatnya Rp18.015 per dolar AS, per Kamis (4/6/2026), dengan pelemahan 0,42% dari hari sebelumnya.
Para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengungkapkan bahwa walaupun daya beli terhadap buah impor sedikit tergerus, kualitas yang lebih baik membuat buah impor tetap diminati. Salah satu pedagang, Kurnia, menyatakan, “Kalau dibilang masih banyak yang beli, ya masih ya. Cuma memang jumlah pembeliannya agak berkurang. Biasanya minimal sekilo, sekarang setengah kilo.”
Pembeli tetap mengincar buah-buah seperti anggur hijau yang sudah dikemas praktis dengan harga Rp60.000 per kilo. Sementara Yani, pedagang lain, menyebutkan bahwa jeruk mandarin juga cukup laris karena kemudahan pengupasannya dan rasa manisnya yang tetap digemari masyarakat.
Alasan utama minat tinggi terhadap buah impor adalah konsistensi kualitasnya. “Kualitas sih paling penting, buah impor itu kualitasnya cukup baik, biasanya manis dan teksturnya lembut,” kata Yani. Faktor ini membuat konsumen lebih yakin meskipun harus menghadapi harga yang lebih tinggi akibat depresiasi rupiah.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan impor barang konsumsi sebesar 42,90% pada April 2026, dengan komoditas buah mengalami kenaikan impor paling signifikan sebesar 109,32%. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan data ini dalam konferensi pers yang dilaksanakan Selasa (2/6/2026).
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

