Salaku: Dari Modal Rp50 Ribu hingga Menjadi Pemain Global

Salaku, dari modal Rp50 ribu, berhasil menembus pasar internasional dan mendampingi UMKM di Indonesia.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Media Indonesia

ZONAUTARA.com – Berawal dari modal hanya Rp50 ribu dan eksperimen kecil mengolah salak menjadi brownies pada 2016, PT Salaku Cara Enak Makan Salak (Salaku) berhasil memperluas pasarnya hingga ke mancanegara. Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini tidak hanya berekspansi ke pasar internasional, tetapi juga berperan aktif memberikan pelatihan serta pendampingan kepada pelaku UMKM lainnya.

Pendiri Salaku, Shelly, mengungkapkan bahwa usaha ini lahir dari tekad untuk menghadirkan inovasi dalam pengolahan buah salak. Menurutnya, salak selama ini lebih dikenal sebagai bahan baku keripik, padahal masih banyak peluang untuk mengembangkan produk olahan baru. “Di awal produksi, kami lebih banyak mengolah produk yang belum ada di pasaran, seperti brownies salak. Awalnya kami membuat kue basah, asinan, dan jus salak,” tuturnya di Cikarang, Bekasi, akhir pekan lalu.

Ide mendirikan Salaku berawal dari kebiasaan anak bungsunya yang gemar mengonsumsi salak. Shelly melihat potensi karena banyak orang menyukai salak, tetapi enggan mengupasnya. “Sebenarnya idenya sederhana. Anak saya suka sekali makan salak, sementara di rumah, buah yang paling sering dibeli memang salak. Akhirnya saya berpikir, ada orang yang mau makan salak tetapi malas mengupasnya. Akhirnya saya kembangkan usaha itu,” ujarnya.

Pengembangan produk berlanjut saat pandemi COVID-19 pada 2020, di mana Salaku mulai merambah produk camilan sehat berbahan dasar salak dengan bebas gluten. “Ini kami usung sebagai snack olahan salak pertama yang menggunakan tepung gluten free dan diproses secara natural,” kata Shelly. Dia menegaskan bahwa semua produk dibuat tanpa menggunakan bahan tambahan pangan, melainkan mengedepankan bahan alami dan manfaat kesehatannya.

Salaku memasuki pasar ritel pada 2022 setelah sebelumnya produk lebih banyak dipasarkan melalui sistem pre-order. Dengan modal awal Rp50 ribu, Shelly memanfaatkan sumber daya yang ada di rumah untuk produksi. “Awalnya cuma satu loyang dan dijual dengan sistem pre-order lewat Facebook,” katanya. Produk yang ditawarkan, seperti brownies, jus, dan asinan salak, terutama laris saat Ramadan untuk menu berbuka puasa. Pada awal berdiri, omzet usaha ini mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan, angka yang cukup besar tanpa biaya operasional tambahan seperti sewa toko atau sertifikasi.




Diolah dari laporan Media Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com