ZONAUTARA.com – Pelaku usaha pusat perbelanjaan di Indonesia, di bawah kepemimpinan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja, menghadapi tantangan besar akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan peningkatan biaya operasional. Untuk mengatasi situasi ini, mereka memilih untuk memperkuat strategi promosi guna mendongkrak penjualan.
Menurut Alphonzus, pelemahan rupiah berdampak signifikan terhadap peningkatan biaya operasional, terutama dari sisi logistik dan harga gas. “Dampak global semakin terasa, nilai tukar rupiah (terhadap dolar AS) meningkat, naik terus. Saat ini biaya-biaya operasional di pusat perbelanjaan meningkat. Terutama dari sisi biaya logistik, kemudian harga gas, karena CNG (gas alam terkompresi), itu ada unsur nilai USD-nya, dolar Amerika Serikatnya,” ungkap Alphonzus.
Kondisi ini, tambah Alphonzus, diperparah dengan kenyataan bahwa penjualan belum sepenuhnya pulih. “Namun di satu sisi kami pusat perbelanjaan tidak bisa menaikkan kepada para penyewa, ataupun harus selektif, karena sedang berada di low season. Penjualan sedang belum maksimal, tetapi biaya operasi naik,” ujarnya.
Sejumlah daerah juga mengalami kenaikan beban operasional akibat kebijakan pemerintah daerah yang mencoba menaikkan pajak sebagai sumber pendapatan tambahan setelah adanya pengurangan dana alokasi daerah dari pemerintah pusat. “Kemudian juga beberapa pemerintah daerah, karena dana alokasi daerahnya dikurangi, itu mereka juga mencari pendapatan tambahan dengan cara menaikkan pajak-pajak,” jelas Alphonzus.
Menaikkan harga sewa atau barang bukanlah pilihan utama bagi APPBI. “Menaikkan harga itu adalah langkah terakhir di tengah situasi daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan,” tegas Alphonzus. Oleh karena itu, strategi promosi diperkuat melalui berbagai program belanja seperti BINA Holiday untuk meningkatkan transaksi dan konsumsi masyarakat demi menjaga pertumbuhan ekonomi.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

