ZONAUTARA.com – Presiden Donald Trump menyatakan pada hari Rabu bahwa Amerika Serikat akan kembali menghantam Iran setelah kedua pihak bertukar serangan pada malam sebelumnya. “Kami menghantam mereka keras kemarin dan kami akan menghantam mereka keras lagi hari ini,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval. Ia juga mengulangi seruannya agar Iran “menandatangani kesepakatan”.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengemukakan dalam sebuah unggahan di X setelah pengarahan dari Trump bahwa Iran “akan tetap teguh menghadapi tekanan atau ancaman apapun”. Serangan AS terhadap Iran dilancarkan pada hari Selasa setelah Trump mengklaim bahwa Iran telah menembak jatuh sebuah helikopter tentara AS. Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut.
Sebelumnya pada hari Rabu, Trump menulis di akun media sosialnya: “Mereka telah terlalu lama untuk merundingkan kesepakatan yang akan bagus untuk mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!” Dia mengatakan Iran telah “sepenuhnya kalah” secara militer. Sementara itu, juru bicara kementerian luar negeri Iran Esmaeil Baqai menuduh AS “merusak proses diplomatik ini melalui pesan-pesan kontradiktif, perubahan berulang posisi dan tuntutan, serta yang paling buruk, melalui pelanggaran berulang gencatan senjata”.
Di hari yang sama, militer AS mengumumkan telah menyerang sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman yang “melanggar blokade dengan mencoba mengangkut minyak dari Iran.” Pemerintah India menyatakan tiga pelaut India hilang dan 21 anggota awak berhasil diselamatkan setelah serangan terhadap kapal Settebello di lepas pantai Oman. AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah Selat Hormuz yang penting sebagai jalur pelayaran ditutup oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel di Tehran pada Februari.
Serangan AS pada Selasa diarahkan pada sistem pertahanan Iran, stasiun kontrol darat, dan situs radar dekat Selat Hormuz, jelas Centcom. Media negara Iran melaporkan bahwa serangan AS telah menghantam dua reservoir di wilayah tersebut, meninggalkan ribuan orang di kota pelabuhan selatan Sirik tanpa akses air minum selama 12 jam.
Diolah dari laporan BBC News.

