ZONAUTARA.com – Bank Dunia mengungkapkan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian global dan volatilitas pasar, ekonomi Indonesia tetap tangguh berkat permintaan domestik yang kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi dalam negeri, serta belanja pemerintah.
Pengelolaan fiskal yang hati-hati turut berkontribusi, dengan defisit diperkirakan tetap di bawah maksimal 3% dari PDB. Penerimaan pemerintah juga menguat seiring aktivitas ekonomi domestik. Reformasi dalam sektor fiskal dan peningkatan produktivitas disebutkan sebagai kunci untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan memastikan pertumbuhan jangka panjang.
Menurut laporan “Indonesia Economic Prospects” dari Kelompok Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,0% pada tahun 2026 meskipun ada tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor. Pertumbuhan diharapkan pulih ke tingkat 5,2% pada 2027-2028.
“Perekonomian Indonesia tetap kuat saat menghadapi ketidakpastian global yang meningkat. Berlanjutnya koordinasi kebijakan, kredibilitas fiskal, dan berbagai reformasi yang meningkatkan produktivitas menjadi penting untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan jangka menengah,” kata Carolyn Turk, Direktur Divisi Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste.
David Knight, Ekonom Utama Bank Dunia, menekankan pentingnya meningkatkan permintaan dari bisnis akan pekerjaan dengan keterampilan dan gaji yang lebih tinggi. Reformasi struktural, seperti perbaikan dalam fasilitasi perdagangan dan logistik, juga diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai global.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

