ZONAUTARA.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa sektor swasta merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan belanja pemerintah. Kontribusi belanja pemerintah terhadap PDB hanya 7,7%, sementara selebihnya didorong oleh sektor swasta. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Economic Update 2026 yang digelar CNBC Indonesia pada 22 Juni 2026.
Dalam paparannya, Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan sebesar 5,61% di triwulan pertama 2026 hampir tidak mungkin tercapai tanpa keaktifan sektor swasta. “Kalau kita lihat kan kontribusi belanja pemerintah ke ekonomi hanya 7,7 persenan, sekitar segitu ya. Sisanya private sector. Jadi kalau private sector yang enggak gerak, hampir pasti kita gak bisa tumbuh sebesar 5,61% triwulan pertama 2026,” katanya.
Strategi Presiden Prabowo untuk memperkuat ekonomi juga menekankan pentingnya belanja gabungan dari pemerintah dan masyarakat. Menurut Purbaya, belanja masyarakat berkontribusi 2,9% terhadap pertumbuhan 5,6%, sementara belanja pemerintah hanya 1,34% dan investasi menyumbang 1,9%. “Belanja masyarakat itu berkontribusi sekitar 2,9% ke angka yang 5,6% itu. Investasi 1,9%, belanja pemerintah cuma 1,34%,” jelasnya.
Purbaya juga mengidentifikasi dua mesin penggerak ekonomi yang kuat yaitu penjualan mobil dan semen. Penjualan mobil tumbuh 55%, sementara penjualan motor naik 28,1%. Konsumsi BBM ritel dan industri masing-masing tumbuh 11,9% dan 17% pada triwulan pertama, sedangkan konsumsi listrik mengalami kenaikan 19%.
Penjualan semen domestik, yang mendukung program pembangunan, tumbuh 35,6% pada April 2026, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat. “Jadi memang lebih tinggi dari sebelumnya, tapi bukan berarti ini hanya satu-satunya mesin pertumbuhan. Jadi daya beli masyarakat masih cukup baik kalau kita lihat dari angka yang ada,” pungkas Purbaya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

