ZONAUTARA.com – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa rencana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akan mendukung perekonomian masyarakat, khususnya kelas menengah. Faisal mengungkapkan hal ini di Jakarta pada Sabtu, menyebutkan bahwa harga minyak mentah dunia berkisar 70 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar 68 dolar per barel, sehingga harga BBM non-subsidi semestinya turun.
Faisal menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi bersifat floating, mengikuti harga minyak mentah internasional, berbeda dengan BBM bersubsidi yang tergantung kebijakan pemerintah. “Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan,” tegas Faisal.
Pertamina, melalui Komisaris Utama Mochamad Iriawan, berencana untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai Juli 2026, menyikapi tren penurunan harga minyak mentah dunia. Iriawan menekankan diskusi lebih lanjut dengan direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penyesuaian harga tersebut.
Saat ini, harga BBM ritel nonsubsidi, seperti Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026, telah naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan harga Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Meski demikian, harga Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) tetap tidak berubah.
Iriawan juga menyoroti pentingnya prosedur dan formula evaluasi berkala dalam penyesuaian harga BBM agar konsumen tidak terpengaruh oleh fluktuasi ekstrem harga harian. Dengan formula ini, konsumen diharapkan mendapatkan perlindungan dari volatilitas harga yang dapat mengganggu perekonomian.
Diolah dari laporan Antara.

