Kecewa Mendalam: Son Heung-min Minta Maaf Usai Korea Selatan Tersingkir

Kapten Korea Selatan, Son Heung-min, minta maaf atas kekalahan timnya di Piala Dunia 2026, sambil berharap untuk memenangkan hati penggemar kembali.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Kecewa Mendalam: Son Heung-min Minta Maaf Usai Korea Selatan Tersingkir

ZONAUTARA.com – Kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min, menyampaikan permohonan maaf atas hasil mengecewakan timnya yang tersingkir dari Piala Dunia 2026. Dalam sebuah unggahan panjang di Instagram pada Senin malam WIB, Son mengungkapkan rasa sakit yang tidak terlukiskan dan keinginannya untuk ‘memenangkan hati’ rakyat Korea Selatan kembali setelah penampilan timnya mendapat kritik tajam, bahkan dari presiden negara, yang berujung pada pengunduran diri pelatih Hong Myung-bo.

Son menyatakan, “Saya tidak berani menyampaikan kekecewaan dan rasa sakit para penggemar hanya dengan kata ‘maaf’,” dan menambahkan bahwa perasaannya tidak cukup hanya dengan kata-kata. Ia menjelaskan, “Panggung impian anak-anak yang selalu saya bicarakan telah runtuh. Saya terjebak dalam rasa sakit yang tidak terlukiskan. Jujur saja, ini masih sulit untuk diterima.” Dalam turnamen ini, Son tidak mencetak gol dan merasa bertanggung jawab secara pribadi karena merasa tidak dapat membalas waktu, hati, serta dukungan dan cinta yang diberikan oleh para penggemar.

Meski begitu, Son menegaskan bahwa ia tidak akan pensiun dari sepak bola internasional. Pemain berusia 33 tahun itu berjanji, “Saya akan berusaha sebaik mungkin di posisi saya untuk memenangkan hati rakyat Korea dan penggemar sepak bola.” Ia juga meminta para pendukung tim untuk memberikan dukungan dan dorongan yang hangat, bukannya kritik yang menyakitkan bagi semua pemain.

Sementara itu, bek tim nasional Inggris, Tino Livramento, telah menjalani operasi setelah terpaksa absen dari Piala Dunia. Klubnya, Newcastle, mengonfirmasi bahwa Livramento mengalami cedera betis menjelang pertandingan pertama Inggris di turnamen melawan Kroasia. Ia digantikan oleh Trevoh Chalobah dari Chelsea dalam skuad dan kembali ke Newcastle untuk perawatan. Klub memperbarui kondisi Livramento pada Selasa, menyatakan, “Newcastle United dapat mengonfirmasi bahwa Tino Livramento telah berhasil menjalani prosedur bedah kecil. Bek yang kembali dari tugas Piala Dunia dengan cedera ini diharapkan bisa kembali berlatih saat pramusim.” Livramento yang berusia 23 tahun juga melewatkan akhir musim 2025-26 akibat cedera paha, namun sempat tampil sebagai pemain pengganti dalam pertandingan persahabatan Inggris melawan Selandia Baru pada 6 Juni.

Dalam pertemuan adu penalti antara Belanda dan Maroko, banyak yang memberikan pujian untuk penyelamatan penalti oleh Bono. Seorang pengamat menyatakan, “Apakah saya sendirian berpikir bahwa penyelamatan penalti Bono untuk Maroko tidak mendapat cukup perhatian?” Penyelamatan tersebut dianggap sebagai aksi cemerlang. Penjaga gawang lainnya, Bart Verbruggen, merasa kecewa setelah melakukan kesalahan yang mengakibatkan gol Maroko, sementara Quinten Timber mengalami momen tragis dengan kesempatan mencetak gol yang terlewatkan.




Manajer Ekuador, Sebastián Beccacece, menjadi pahlawan setelah timnya secara mengejutkan lolos ke babak 32 besar dengan mengalahkan Jerman. Ekuador akan menghadapi tuan rumah Meksiko di Azteca pada Selasa malam, sebuah tantangan besar di mana kegagalan tidak akan memalukan. Apapun yang terjadi di lapangan, legenda Beccacece sudah tertulis. Penampilan Jürgen Klopp di turnamen ini, yang bekerja untuk TV Jerman, mengingatkan betapa pentingnya kehadiran sosok besar dalam sepak bola.

Reaksi terhadap kekalahan Jerman terus mengalir dengan tajuk utama yang brutal dan komentar marah di beberapa media terkemuka negara tersebut. Tajuk utama surat kabar Bild menyebut hasil tersebut sebagai ‘Mimpi Buruk Sepak Bola Jerman Selanjutnya’, sementara kolumnis Marion Horn mengkritik reaksi Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang merasa bangga meskipun timnya tersingkir. Horn menyebutkan bahwa kekalahan telak ini mencerminkan kondisi negara secara keseluruhan dan menggarisbawahi bahwa sepak bola Jerman kini hanya hidup dari reputasi masa lalu.

Sumber: The Guardian

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com