Peningkatan Perokok Anak di Indonesia Soroti Harga Murah dan Regulasi Lemah

Peneliti RUKKI Foundation soroti faktor ekonomi dan kebijakan lemah yang sebabkan peningkatan perokok anak.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Media Indonesia

ZONAUTARA.com – Prevalensi perokok di kalangan anak-anak Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Hal ini disoroti oleh Ridhwan Fauzi, peneliti Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (Rukki) Foundation, dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Kamis (2/7). Ridhwan menjelaskan faktor utama meningkatnya jumlah perokok anak adalah harga rokok yang terlalu terjangkau bagi kantong pelajar.

Data dari Global School-based Health Survey (GSHS) mengungkapkan lonjakan prevalensi perokok pada kelompok usia remaja. Menurut Ridhwan, dengan uang saku rata-rata Rp10 ribu per hari, seorang anak bisa membeli rokok yang dijual eceran seharga sekitar Rp2 ribu per batang. Kebijakan yang melarang penjualan rokok kepada anak, seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, belum diterapkan secara efektif di banyak daerah.

Ridhwan menyoroti lemahnya penegakan aturan ini, yang terlihat dari penjualan rokok eceran yang marak. Anak-anak yang merokok rata-rata mengonsumsi lima batang per hari, menunjukkan ketergantungan pada sistem pembelian eceran tersebut. Selain itu, struktur cukai di Indonesia yang memiliki delapan layer menyebabkan perbedaan harga yang besar antara merek rokok, yang memudahkan anak-anak untuk tetap merokok dengan beralih ke merek yang lebih murah.

Dari perspektif sosiologis, merokok masih dianggap sebagai hal yang wajar di masyarakat. “Masyarakat masih menganggap rokok merupakan hal yang biasa. Ketika menemukan anak-anak SMP dan SMA merokok, orang-orang tidak menganggap itu sebagai hal yang berisiko, padahal dampaknya sangat besar,” ujar Ridhwan. Dia juga menyoroti ketiadaan mekanisme tanggung jawab industri tembakau di Indonesia, di mana tanggung jawab kerugian kesehatan sering jatuh pada pasien dan negara.

Kerugian ekonomi dari perokok anak juga sangat besar. Peneliti RUKKI Foundation mencatat bahwa perokok anak di Indonesia menghabiskan Rp4,5 triliun per tahun dengan konsumsi 4,12 miliar batang rokok. Pencegahan terhadap rokok di kalangan anak-anak harus tidak hanya difokuskan pada lingkungan sekolah tetapi juga pada lingkungan sosial mereka.




Diolah dari laporan Media Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com