ZONAUTARA.com – Rusia dilaporkan mengalami kerugian besar dengan hampir 40.000 personel militer hilang dalam satu bulan akibat melambatnya laju serangan di Ukraina. Berdasarkan laporan terbaru, serangan drone dan rudal dari pihak Ukraina menjadi faktor signifikan yang menghalangi kemajuan pasukan Moskow.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa situasi ini menunjukkan efektivitas strategi pertahanan Kyiv. “Jika Putin ingin mengirim satu juta tentaranya lagi untuk terus melawan tembok ini, maka satu juta warga Rusia yang belum dimobilisasi harus memikirkan apa yang menanti mereka selanjutnya,” ungkap Zelenskyy, mengacu pada jumlah korban Rusia sejak awal konflik, yang diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta.
Menurut estimasi militer Ukraina, bulan Juni lalu Rusia kehilangan sekitar 39.490 personel. Ini jauh melampaui kapasitas rekrutmen tentara baru yang berada di kisaran 24.000 hingga 30.000 orang per bulan. Institute for the Study of War (ISW) juga melaporkan bahwa korban dari pihak Rusia kini mencapai 1.298 personel untuk setiap kilometer persegi wilayah yang telah direbut pada bulan Juni, menunjukkan kenaikan tajam dari 68 personel per kilometer persegi dibandingkan tahun lalu.
Laporan dari ISW juga menunjukkan bahwa kemajuan Rusia di medan perang terus menurun. Sepanjang paruh pertama 2026, Rusia hanya berhasil menguasai 622 kilometer persegi wilayah Ukraina, menurun drastis dari 2.190 kilometer persegi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, tanpa menghitung wilayah yang sementara dikuasai, keuntungan bersih Rusia hanya sekitar 97 kilometer persegi. Pada bulan Juni, rata-rata pasukan Rusia hanya mampu merebut 1,03 kilometer persegi wilayah per hari, jauh lebih rendah dari 16,6 kilometer persegi per hari pada awal 2025.
Ditengah-tengah tekanan pertempuran, Rusia menyatakan tetap terbuka untuk mediasi dari Amerika Serikat dalam upaya mengakhiri konflik ini. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebutkan bahwa proposal yang sebelumnya dibahas dengan Washington masih relevan sebagai dasar penyelesaian konflik. Sementara itu, Presiden Vladimir Putin mengaku menolak dua usulan gencatan senjata dari Ukraina, mengklaim bahwa operasi militer Rusia tetap memberikan keuntungan strategis.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

