ZONAUTARA.com – Dalam kekalahan 2-1 Inggris melawan Argentina di semifinal Piala Dunia pada Rabu (17/7/2026) waktu setempat, harapan yang sempat muncul bagi tim Inggris terasa menyakitkan. Kekalahan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, tetapi mencerminkan harapan dan kekecewaan yang dialami penggemar sepak bola.
Dalam bukunya yang berjudul ‘Hope in the Dark’, penulis Rebecca Solnit menggali kemungkinan untuk memiliki harapan di tengah penderitaan manusia. Ia mengutip penulis Bulgaria Maria Popova: ‘Berpikir kritis tanpa harapan adalah sinisme, tetapi harapan tanpa berpikir kritis adalah naivitas’. Ini adalah argumen yang kuat untuk harapan sebagai pemicu perubahan sosial.
Komentar Graham Burrell setelah kekalahan Lincoln City pada 2024, ‘It is the hope that kills you’, mengungkapkan perasaan pahit yang sering dialami penggemar. Kekalahan di Sincil Bank dan di lapangan melawan Argentina menjadi contoh nyata bagaimana harapan bisa menjadi beban. Sulit untuk menentukan di mana tepatnya kekalahan ini berada dalam konteks penderitaan manusia.
Sejarah pernyataan ‘It is the hope that kills you’ sulit dilacak, bisa berasal dari siapa saja, mulai dari William Shakespeare hingga Peter Ustinov. Banyak yang mengembangkan ide ini, termasuk karakter Ted Lasso yang berpendapat bahwa kekurangan harapanlah yang berbahaya. Sementara itu, Jackson Lamb dari ‘Slow Horses’ menambahkan, ‘Bukan harapan yang membunuhmu. Mengetahui bahwa harapan itulah yang membunuhmu – itulah yang membunuhmu’.
Dalam pertandingan itu, harapan Inggris berfluktuasi. Ketika laga dimulai, harapan tidak ada, dan ketakutan menguasai pikiran. Ketakutan itu semakin meningkat saat bola kembali kepada Jordan Pickford, di mana detak jantung terasa lebih cepat. Saat pertandingan berlangsung, rasa cemas mulai muncul, ditambah dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pemain Argentina.
Setelah beberapa saat, harapan mulai muncul saat Inggris mencetak gol, memberikan momen kegembiraan yang sejenak menghapus ketakutan. Namun, saat Argentina berhasil menyamakan kedudukan, ketidakpastian kembali melanda. Momen-momen kecil yang menggembirakan, seperti tekel Djed Spence, menjadi sorotan, tetapi tetap ada kesadaran bahwa segalanya bisa berubah dengan cepat.
Menjelang akhir pertandingan, saat Nico O’Reilly melakukan blok dan berusaha merebut bola, harapan mulai tumbuh. Namun, ketika Enzo Fernández mencetak gol kedua untuk Argentina, semua harapan seolah sirna. Dalam waktu dua menit dan 55 detik, harapan itu benar-benar ada, tetapi berakhir dengan kekecewaan yang mendalam.
Kekalahan ini bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi lebih tentang perjalanan emosional yang dilalui oleh penggemar dan tim. Harapan telah hadir, meskipun hanya sejenak, dan itu memberikan pelajaran berharga bagi semua yang menyaksikannya.
Sumber: The Guardian

