ZONAUTARA.com – Harapan untuk mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali hidup setelah Qatar melaporkan adanya kemajuan dalam upaya mediasi internasional. Qatar menyampaikan, kemajuan tersebut melibatkan banyak negara dan memengaruhi pasar energi global dengan menurunkan harga minyak dunia lebih dari 5%, sementara ekspektasi pembukaan Selat Hormuz kembali meningkat.
Meski terjadi perkembangan positif, perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran masih terlihat jelas. Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa pembicaraan telah dimulai, namun pemerintah Iran membantah klaim tersebut. Harga minyak mentah Brent mengalami penurunan lebih dari 5% setelah pernyataan Qatar pada Selasa, 4 Agustus 2026, seiring harapan tercapainya kesepakatan yang turut memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Pada hari yang sama, Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan percakapan telepon guna mempersempit perbedaan dengan Teheran dan meningkatkan peluang penyelesaian konflik secara permanen. Emir Qatar menekankan pentingnya dialog dan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman AS-Iran yang telah disepakati pada pertengahan Juni lalu. Nota tersebut berisi penghentian operasi militer.
Di sisi lain, Trump mengungkapkan pada hari Senin bahwa pembicaraan dengan Teheran berada dalam tahap awal, sementara Teheran menolak hal ini. Keputusan Trump untuk membatalkan serangan besar baru-baru ini mencerminkan pola pendekatannya yang menonjolkan ancaman militer sebelum kembali mengedepankan diplomasi. Pejabat Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembicaraan terkait Selat Hormuz dengan Oman positif, berfokus pada jalur pelayaran yang aman.
Berbagai pejabat AS, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menyatakan optimisme terhadap kemajuan mediasi ini. Rubio mengatakan bahwa meski belum ada keputusan akhir, perkembangan positif telah tercapai dan diharapkan dapat diselesaikan segera. Bessent menambahkan kemungkinan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang, meski ancaman terhadap pelayaran internasional tetap ada.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

