Deteksi Penyakit Melalui Suara: Inovasi dalam Dunia Medis

Metode biomarker vokal kembangkan deteksi penyakit melalui suara. Inisiatif didanai NIH.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Dunia medis kini semakin canggih dengan adanya terobosan baru dalam mendeteksi penyakit melalui suara seseorang. Metode ini dikenal dengan istilah biomarker vokal, sebuah cara yang tengah disempurnakan oleh para ilmuwan di berbagai institusi terkemuka. National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat turut mendanai proyek ambisius ini dengan harapan dapat mempermudah diagnosis dari suara.

Salah satu proyek unggulan adalah Bridge2AI-Voice, yang didanai oleh NIH dengan anggaran lebih dari 100 juta dolar AS. Proyek ini melibatkan University of South Florida, Cornell, dan sepuluh institusi lainnya. Dengan target mengumpulkan sekitar 30.000 sampel suara dalam empat tahun, penelitian ini akan membandingkan data kesehatan lain untuk mendeteksi lima kelompok gangguan, yaitu neurologis, suara, suasana hati, pernapasan, dan kejiwaan pada anak-anak seperti autisme.

Proses analisis suara ini melibatkan berbagai parameter akustik seperti jitter, shimmer, dan harmonic-to-noise ratio (HNR). Misalnya, pada penyakit Parkinson, gangguan gerak mempengaruhi otot-otot pengendali suara. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan pada fitur suara bisa terdeteksi pada 78 persen pasien Parkinson tahap awal sebelum gejala fisik lainnya muncul.

Inisiatif lain yang berbeda, namun sejalan adalah Parkinson’s Voice Initiative, yang dirancang oleh peneliti Max Little dari Wellcome Trust dan MIT. Proyek ini menggunakan algoritma untuk mendeteksi gejala Parkinson seperti getaran pita suara dan kelemahan napas dari rekaman suara sederhana. Pfizer dan IBM juga berkolaborasi dalam proyek yang memonitor gejala Parkinson dari suara sehari-hari pasien.

Sejalan dengan penelitian tersebut, University of Macau dan Shanghai University mengembangkan Voice-AttentionNet, model yang diujicobakan dengan 35.500 sampel suara. Dari model ini, hasil akurasi deteksi mencapai 91,61 persen. Hasil menunjukkan bahwa penyakit seperti Parkinson lebih mudah dideteksi, sementara gangguan tiroid lebih menantang.




Diolah dari laporan Tirto.id.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com