ZONAUTARA.com – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa sekitar enam persen anak Indonesia berusia 0-17 tahun belum memiliki akta kelahiran sehingga diperlukan integrasi SatuSehat-SIAK untuk digitalisasi penerbitan akta tersebut. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi pencatatan serta membantu pemenuhan hak anak.
Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026, tercatat 94,6 persen anak sudah memiliki akta kelahiran. Ia menerangkan betapa pentingnya identitas resmi bagi anak karena tanpa pencatatan, anak berisiko menjadi korban perdagangan orang, kekerasan seksual, hingga pekerja anak.
Amalia mengungkapkan bahwa banyak masyarakat baru mengurus akta kelahiran menjelang masa persiapan sekolah, yang menyebabkan jeda waktu sampai lima tahun antara kelahiran dan penerbitan akta. Di Tanah Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT), cakupan kepemilikan akta kelahiran anak masih di bawah 90 persen, sehingga BPS bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membangun sistem statistik hayati.
“Dengan nanti digitalisasi akte kelahiran ini, ini bisa mengurangi time lag antara bayi lahir dengan kemudian penerbitan akte kelahiran,” kata Amalia.
BPS berharap digitalisasi ini dapat memperbaiki statistik hayati. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), angka kelahiran bayi (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia adalah 2,13. Menurutnya, angka ini mencerminkan pertumbuhan penduduk seimbang yang harus dipertahankan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
Pemerintah mengintegrasikan SatuSehat dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) guna mempermudah penerbitan akta kelahiran bayi, kartu keluarga, serta kartu ibu dan anak secara digital. Menteri PANRB Rini Widyantini menyatakan bahwa ekosistem ini membuat masyarakat tidak lagi perlu mengisi banyak formulir dari berbagai instansi.
“Jadi mudah-mudahan nanti seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan satu pelayanan yang layanan utuh kepada masyarakat, jadi satu negara satu pengalaman,” ungkap Rini Widyantini.
Diolah dari laporan Antara – Top News.

