ZONAUTARA.com – Kecelakaan maut terjadi dalam Open Tournament Tidar Drag Race–Drag Bike Kotamobagu Championship 2026 di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Minggu (11/8/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WITA, setelah salat Asar. Saat kejadian, sejumlah penonton berada di sekitar area lintasan untuk menyaksikan perlombaan.
Satu unit mobil Honda Jazz yang melaju di lintasan menabrak kerumunan penonton dan menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka.
Kesaksian salah satu penonton, Ary Pratama (30), warga Genggulang, yang saat itu berada sekitar 30 meter dari lokasi kejadian. Ia mengaku melihat langsung detik-detik sebelum mobil Honda Jazz mengalami kecelakaan.
Menurut Ary, sebelum Honda Jazz melaju, terdapat sebuah sedan berwarna hitam yang melintas di lintasan. Saat petugas memberikan kode kepada pengemudi untuk mengurangi kecepatan, Honda Jazz disebut sudah mulai memperlambat laju kendaraannya.
“Pada saat polisi memberi kode, mobil tersebut sudah kondor, kalau bahasa kampung ‘ba kondor gas’, mengurangi kecepatan. Itu sudah kelihatan,” ujar Ary.
Ia mengatakan mobil tersebut sempat menginjak rem sebanyak dua kali sebelum akhirnya kehilangan kendali dan menabrak kerumunan penonton.
“Mobil tersebut dua kali menginjak,” katanya.
Sesaat setelah kejadian, aparat keamanan meminta warga tidak mendekati kendaraan yang mengalami kecelakaan. Mobil tersebut terlihat mengeluarkan asap sehingga dikhawatirkan masih membahayakan penonton di sekitar lokasi.
Ary kemudian mencari keberadaan ibunya yang juga berada di sekitar lokasi perlombaan. Setelah tidak menemukan ibunya, ia ikut membantu mengevakuasi korban.
“Karena ibu saya tidak ada, saya langsung membantu mengangkat korban-korban,” ujarnya.
Selain menceritakan kejadian, Ary menyoroti kondisi pengamanan di sekitar lintasan, khususnya area menjelang garis finis.
Ia mengatakan, beberapa hari sebelum perlombaan, sempat ada warga yang mempertanyakan minimnya material pengaman di sekitar garis finis. Menurutnya, tidak terlihat ban bekas, pasir, maupun kulit padi yang biasanya digunakan sebagai penghalang tambahan untuk mengurangi risiko ketika kendaraan keluar dari lintasan.
“Sempat ada warga komplain kenapa tidak ada ban mobil atau pasir dan kulit padi sebagai pengaman di garis finis,” katanya.
Ary juga menyebut pagar besi sebagai pembatas penonton hanya terpasang hingga sekitar 100 meter dari garis finis. Setelah titik tersebut, pembatas disebut menggunakan material kayu hingga mendekati lokasi kecelakaan.
Sebelum Honda Jazz mengikuti perlombaan, Ary mengaku melihat dua orang panitia meminta aparat keamanan berjaga di area tersebut karena berada di sekitar kawasan finis.
Menurut Ary, banyaknya penonton di sisi kiri lintasan juga dipengaruhi kondisi cuaca. Saat kecelakaan terjadi, cuaca masih panas dengan matahari sore yang cukup terik.
Sisi kiri lintasan disebut memiliki area yang dapat digunakan penonton untuk berteduh, sementara penonton di sisi kanan lebih banyak terpapar matahari.
“Banyak juga yang bertanya kenapa di sebelah kiri banyak orang yang menonton karena mereka berteduh dari panas matahari sore hari,” ujarnya.
Ary menegaskan, berdasarkan pengamatannya, penonton tidak melewati batas penghalang yang telah ditentukan. Ia sendiri mengaku menyaksikan perlombaan dari luar garis pembatas.
Diketahui, keterangan Ary merupakan kesaksian berdasarkan apa yang dilihat dan didengarnya secara langsung di lokasi kejadian.
Sementara itu, penyebab pasti kecelakaan, kondisi kendaraan, prosedur perlombaan, serta aspek pengamanan lintasan masih menjadi bagian dari penyelidikan aparat kepolisian.

