ZONAUTARA.com – Penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap rencana perdamaian 15 poin yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti perbedaan kepentingan antara keduanya. Ini berpotensi menjadi masalah politik bagi Trump menjelang pemilu penting di Amerika Serikat dan Israel.
Sebuah laporan dari Axios mengutip pernyataan seorang pejabat senior AS yang mengatakan keputusan Netanyahu terkait erat dengan “kebutuhan politik” menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober. Situasi ini dapat menyulitkan Trump yang berusaha mempertahankan citra sebagai pemimpin perdamaian.
Rencana yang diumumkan Trump pada 30 Juli itu dianggap sebagai “terobosan bersejarah” oleh Dewan Perdamaian. Proposal tersebut mencakup penghentian perang, pelucutan senjata Hamas, dan pengalihan pemerintahan Gaza kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza. Namun, Netanyahu menyatakan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik sampai Hamas dilucuti.
Hamas sebelumnya telah bersedia melucuti senjata dan mendesak mediator serta AS untuk menekan Netanyahu agar mematuhi kesepakatan tersebut. “Kami berharap para mediator dan pihak penjamin dari Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Netanyahu dan pemerintahannya agar ia mematuhi peta jalan tersebut,” kata pejabat senior Hamas, Bassem Naim.
Di dalam negeri AS, persoalan ini menjadi sensitif, dengan pandangan negatif terhadap Israel meningkat dan beban politik Trump kian berat dari berbagai arah politik. Shalom Lipner dari Atlantic Council menilai perbedaan kepentingan antara Trump dan Netanyahu ini bisa berkembang menjadi konfrontasi terbuka jika kebuntuan Gaza berlanjut.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

