ZONAUTARA.com – Profesor Jason Arday, sosiolog asal Inggris, ditemukan meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026) setelah mengundurkan diri dari Universitas Cambridge di tengah tuduhan plagiarisme yang menimpanya. Penemuan jasadnya terjadi hanya beberapa hari setelah ia melepaskan jabatannya di universitas tersebut, menurut laporan dari media Inggris.
Jason Arday, yang mencatat sejarah sebagai profesor kulit hitam termuda di Universitas Cambridge pada tahun 2023 di usia 37 tahun, akhir-akhir ini menghadapi tekanan besar akibat tuduhan plagiarisme dalam karya akademiknya. Ia juga disorot terkait klaim prestasi atletik dan penggalangan dana yang pernah ia sampaikan.
Menurut laporan media, Arday ditemukan tidak responsif di sebuah rumah di kawasan Battersea, London selatan. Kepolisian Metropolitan London menyatakan seorang pria berusia 41 tahun ditemukan meninggal di lokasi tersebut, namun kematian tersebut dianggap tidak mencurigakan.
Kabar kematian Arday muncul bersamaan dengan peluncuran memoirnya berjudul Great and Unfortunate Things, yang tetap dirilis oleh Simon & Schuster meskipun muncul keraguan mengenai kredibilitasnya. Dalam pernyataan yang dirilis penerbitnya, keluarga Arday menyatakan sangat terpukul atas kematiannya.
“Kami sangat terkejut kehilangan ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa ini,” kata pihak keluarga. Mereka menambahkan bahwa Arday selama tiga tahun terakhir menjadi sasaran pelecehan berkelanjutan dari pihak-pihak yang berusaha meruntuhkan reputasinya.
Wakil Rektor Universitas Cambridge, Deborah Prentice, mengungkapkan duka mendalam atas kabar tersebut dan mengumumkan bahwa universitas akan menyelidiki proses perekrutan Arday. Karier Arday selama ini dikenal karena kisah hidupnya yang inspiratif, meskipun ia mengakui terdapat kesalahan dalam proses penyusunan disertasinya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

